No Na Ukir Sejarah di The First Take 2026

Daftar Isi

no na
no na (YouTube.com)

TEGAROOM - Kabar membanggakan datang dari industri musik Tanah Air. Girl group asal Indonesia, No Na, berhasil mencatatkan sejarah sebagai grup Indonesia pertama yang tampil di kanal musik bergengsi Jepang, THE FIRST TAKE. Pencapaian ini terjadi pada Senin, 11 Mei 2026, kala video penampilan mereka dirilis secara resmi di YouTube. No Na sendiri merupakan grup vokal wanita yang berada di bawah naungan label internasional 88rising, dan resmi debut pada Mei 2025 lalu. Grup yang terdiri dari empat anggota berbakat, Christy Gardena, Esther Geraldine, Baila Fauri, dan Shazfa Adesya ini, langsung menarik perhatian publik lewat lagu debut mereka yang bertajuk "Shoot".

Kesuksesan No Na menapaki tangga musik internasional tidak hanya berhenti sampai di situ. Mereka juga sukses mencuri perhatian lewat penampilan-penampilan memukau di berbagai festival musik dunia, termasuk Head in the Clouds Tokyo. Popularitas mereka terus meroket, membawa nama Indonesia ke kancah global, dan kini resmi menginjakkan kaki di salah satu panggung paling prestisius di Asia Timur, yaitu THE FIRST TAKE.

Sejarah dan Konsep THE FIRST TAKE

THE FIRST TAKE merupakan kanal YouTube asal Jepang yang didirikan oleh Sony Music Entertainment. Kanal ini pertama kali muncul pada tahun 2019 dan langsung viral karena konsepnya yang unik dan menantang. Di saluran ini, para musisi diundang untuk tampil dalam satu kali pengambilan gambar, atau yang dikenal dengan istilah "one take". Tidak ada proses pengeditan suara maupun rekaman ulang di sini. Artis hanya diberikan satu kesempatan untuk menyanyikan lagu mereka secara langsung di depan mikrofon, dengan latar belakang studio berwarna putih yang ikonik. Jika terjadi kesalahan sedikit pun, seperti fals atau lupa lirik, kesalahan itu akan terdengar dan terekam apa adanya. Konsep inilah yang menjadikan undangan untuk tampil di THE FIRST TAKE sebagai sebuah kehormatan sekaligus ajang pembuktian kualitas vokal seorang musisi.

Sepanjang sejarahnya, THE FIRST TAKE telah menghadirkan banyak nama besar dari industri musik dunia, mulai dari LiSA hingga Harry Styles. Di kawasan Asia, grup-grup ternama seperti BABYMONSTER, aespa, dan Stray Kids juga pernah meramaikan kanal tersebut. Kehadiran No Na tentu menjadi sebuah capaian luar biasa, mengingat persaingan di platform ini sangat ketat dan hanya diikuti oleh bintang-bintang papan atas.

Penampilan Perdana dengan Lagu "Shoot"

Pada episode ke-665, THE FIRST TAKE secara resmi memperkenalkan No Na sebagai bintang tamu spesial. Mereka membawakan lagu debut yang sudah tidak asing lagi di telinga pendengar, yaitu "Shoot". Sejak pertama kali dirilis, lagu ini telah meraih lebih dari 10 juta tayangan di YouTube. Penampilan No Na di THE FIRST TAKE terbilang sangat matang. Mengenakan busana kasual namun tetap modis, keempat anggota tampil dengan percaya diri meskipun harus bernyanyi secara live dengan standar internasional.

Menariknya, sebelum mulai bernyanyi, para anggota menyapa penonton menggunakan bahasa Jepang yang fasih, sebuah gestur yang langsung membuat penonton Jepang terkesima. Kemudian, dengan harmoni yang solid, mereka memulai lagu "Shoot". Esther dan Baila, yang berperan sebagai vokalis utama, menunjukkan kestabilan suara yang luar biasa di nada-nada tinggi. Christy dan Shaz, yang bertugas sebagai dancer sekaligus rapper, memberikan aksen energik yang membuat penampilan semakin hidup. Netizen langsung membanjiri kolom komentar dengan pujian. Banyak yang menyebut bahwa kualitas vokal No Na tidak kalah dengan grup-grup besar dari Korea Selatan dan Jepang.

Video tersebut langsung viral dan dalam waktu 15 jam setelah dirilis, videonya telah ditonton lebih dari 180 ribu kali, sebuah angka yang terus bertambah seiring waktu.

Reaksi Hangat dari Penggemar dan Media

Pencapaian No Na tidak luput dari perhatian media besar di Indonesia. RRI, Kompas, Media Indonesia, hingga Detik, semuanya memberitakan momen bersejarah ini. Media Jepang pun ikut meliput, menyebut No Na sebagai grup global pop asal Indonesia yang berhasil menembus pasar musik Negeri Sakura. Di media sosial, tagar terkait No Na sempat menjadi trending topic di beberapa platform. Netizen dari berbagai negara, termasuk Filipina dan negara Asia Tenggara lainnya, turut memberikan dukungan mereka. Mereka menganggap keberhasilan No Na sebagai kemenangan bagi industri musik Asia Tenggara yang selama ini jarang mendapat tempat di panggung dominan Jepang atau Korea.

Penampilan Kedua dengan "Rollerblade"

Tidak hanya berpuas diri dengan satu kali penampilan, No Na kembali mengejutkan penggemar dengan kehadiran mereka yang kedua kalinya di THE FIRST TAKE. Hanya berselang satu minggu setelah perilisan "Shoot", tepatnya pada Senin, 18 Mei 2026, No Na kembali menghiasi studio putih THE FIRST TAKE. Kali ini, mereka membawakan single terbaru mereka yang bertajuk "Rollerblade".

Lagu "Rollerblade" memiliki tempo yang lebih cepat dan beat yang enerjik dibandingkan "Shoot". Menyanyikan lagu dengan beat cepat secara live dalam satu kali pengambilan adalah tantangan tersendiri, karena berisiko kehabisan napas di tengah jalan. Namun, No Na berhasil melewati ujian ini dengan gemilang. Bahkan, dalam penampilan kedua ini, para member terlihat lebih santai dan menikmati alunan musik. Beberapa improvisasi vokal kecil justru membuat penampilan mereka terasa lebih otentik dan manusiawi, yang justru menjadi daya tarik utama dari konsep THE FIRST TAKE.

Video "Rollerblade" di THE FIRST TAKE langsung mendapatkan respons positif. Dalam waktu 14 jam setelah perilisan, video tersebut sudah ditonton lebih dari 150 ribu kali. Netizen kembali berdecak kagum, terutama pada suara Esther yang dianggap sangat powerful dan "nyata adanya". Banyak yang menyebut bahwa kemampuan vokal No Na semakin matang dan siap bersaing di industri musik global.

Kualitas Vokal Tanpa Editing

Salah satu poin terpenting dari debut No Na di THE FIRST TAKE adalah pembuktian kualitas vokal mereka. Selama ini, girl group seringkali diragukan kemampuannya saat tampil secara live. Namun, dengan konsep "one take" yang hanya mengandalkan satu mikrofon dan latar putih minimalis, No Na berhasil menunjukkan bahwa vokal mereka tidak perlu diedit atau di-"tune" untuk terdengar bagus. Bahkan, dalam penampilan "Shoot" maupun "Rollerblade", harmonisasi suara keempat anggota dinilai sangat rapi dan stabil. Nada-nada tinggi yang biasanya menjadi "momok" bagi penyanyi live, justru berhasil dibawakan dengan tenang oleh Esther dan Baila.

Christy dan Shaz, yang lebih banyak memegang porsi dance dan rap, juga tidak kalah bersinar. Improvisasi mereka, seperti interaksi singkat di sela-sela lagu, menambah daya tarik tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa No Na bukan sekadar grup yang mengandalkan koreografi, tetapi memiliki pondasi vokal yang kuat sebagai modal utama bersaing di panggung internasional.

Strategi Global 88rising

Keberhasilan No Na tidak terlepas dari peran label 88rising. Label yang terkenal dengan jajaran artis Asia seperti Niki, Rich Brian, dan Stephanie Poetri ini memang dikenal sangat strategis dalam memasarkan musisi ke pasar global. Sebagai girl group pertama asal Indonesia yang secara khusus dibina oleh 88rising, No Na mendapatkan dukungan penuh, mulai dari produksi musik yang berkualitas hingga kesempatan untuk tampil di festival-festival besar. Penampilan mereka di THE FIRST TAKE merupakan bagian dari strategi ekspansi 88rising untuk memperkuat posisi No Na di pasar Asia Timur, terutama Jepang. Jepang merupakan pasar musik terbesar kedua di dunia, dan mampu menembus pasar tersebut adalah sebuah pencapaian yang sangat krusial bagi karier sebuah grup pendatang baru.

Dampak bagi Industri Musik Indonesia

Pencapaian No Na membawa angin segar bagi industri musik Indonesia. Selama ini, mungkin publik lebih familiar dengan grup-grup Korea atau Jepang yang mendominasi tangga lagu Asia. Namun, kehadiran No Na membuktikan bahwa musisi Indonesia juga memiliki kualitas yang setara. Dengan mengandalkan vokal murni dan estetika yang sederhana namun kuat, No Na berhasil menunjukkan bahwa talenta lokal mampu bersaing di kancah dunia tanpa harus mengikuti standar industri yang terlalu "dipoles". Hal ini diharapkan dapat membuka jalan bagi artis Indonesia lainnya untuk berani melangkah ke panggung internasional, serta membangun ekosistem musik yang lebih sehat dan kompetitif.