Harapan dan Realita Tim Asia Timur di Piala Dunia 2026
![]() |
| FIFA World Cup 2026 (YouTube.com) |
TEGASIAN - Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar di Amerika Utara—dengan tiga negara tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—menjadi edisi bersejarah karena pertama kalinya turnamen ini diikuti oleh 48 tim. Bagi kawasan Asia Timur, turnamen ini menghadirkan harapan besar sekaligus kekecewaan mendalam. Jepang, Korea Selatan, dan Australia (yang secara geografis dan sepak bola kerap dikaitkan dengan kawasan ini) mewakili wajah sepak bola Asia Timur di pentas dunia. Namun, dari ketiganya, hanya satu yang berhasil melangkah jauh meninggalkan jejak yang patut diperhitungkan.
Perjalanan tim-tim Asia Timur di Piala Dunia 2026 menyuguhkan drama yang penuh warna—dari kejutan manis hingga kepahitan tersingkir lebih cepat dari yang diharapkan. Mari kita telusuri satu per satu kisah mereka di turnamen empat tahunan ini.
Jepang: Sang Samurai Biru yang Perkasa
Jepang tampil sebagai bintang terang dari Asia Timur di Piala Dunia 2026. Tim asuhan Hajime Moriyasu berhasil mencatatkan sejarah dengan menjadi wakil Asia pertama yang memastikan tiket ke babak 32 besar. Lebih dari itu, Samurai Biru menyelesaikan fase grup tanpa sekalipun menelan kekalahan—sebuah pencapaian yang istimewa bagi sepak bola Jepang.
Perjalanan Fase Grup yang Tak Terkalahkan
Bergabung dalam Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia, Jepang menunjukkan konsistensi yang mengesankan. Mereka membuka perjalanan dengan hasil imbang 2-2 melawan Belanda, tim yang dijagokan sebagai kandidat juara. Pada laga kedua, Jepang mencatatkan kemenangan besar 4-0 atas Tunisia—kemenangan terbesar mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia sejak debut pada 1998. Empat gol dalam pertandingan tersebut dicetak oleh Daichi Kamada, Junya Ito, dan Ayase Ueda yang mencetak dua gol.
Laga penentuan melawan Swedia berakhir dengan skor 1-1, cukup untuk mengamankan posisi runner-up Grup F dengan koleksi lima poin dari satu kemenangan dan dua hasil imbang. Jepang menorehkan tujuh gol sepanjang fase grup dan mencatatkan satu clean sheet. Ini merupakan kali pertama Jepang berhasil melewati fase grup tanpa kekalahan dalam turnamen yang digelar di luar kandang.
Pelatih Hajime Moriyasu mengungkapkan kunci keberhasilan timnya terletak pada persiapan yang matang dan permainan agresif. "Kami melakukan persiapan dengan baik sesuai dengan apa yang ingin kami lakukan dan bermain secara agresif," ujar Moriyasu setelah kemenangan atas Tunisia.
Tantangan Berat di Babak Gugur
Sebagai runner-up Grup F, Jepang harus menghadapi juara Grup C, Brasil, pada babak 32 besar yang berlangsung pada 30 Juni 2026. Pertemuan ini diprediksi sebagai salah satu laga paling menarik di fase gugur. Jepang sebenarnya memiliki modal psikologis positif setelah berhasil mengalahkan Brasil 3-2 dalam laga uji coba internasional pada Oktober tahun lalu, di mana mereka melakukan comeback dramatis setelah tertinggal 0-2.
Sayangnya, mimpi Jepang untuk melangkah lebih jauh harus kandas. Dalam pertandingan sengit yang berlangsung di Houston Stadium, Texas, Jepang harus mengakui keunggulan Brasil dengan skor 1-2. Jepang sempat unggul lebih dulu di babak pertama melalui gol dari Kaishu Sano, namun Brasil menyamakan kedudukan 11 menit setelah jeda. Saat pertandingan tampaknya akan berlanjut ke babak tambahan, Gabriel Martinelli mencetak gol penentu pada menit ke-95 untuk mengirim Brasil melangkah lebih jauh.
Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, memberikan penghormatan kepada Jepang setelah pertandingan. "Mereka berjuang dengan keberanian yang luar biasa, dan saya sangat memahami rasa sakit yang ditimbulkan oleh kekalahan seperti ini," katanya.
Meski tersingkir, penampilan Jepang di Piala Dunia 2026 tetap mengagumkan. Gaya permainan mereka yang disiplin dan terstruktur menunjukkan bahwa Jepang hampir mencapai tahap penantang kejuaraan. Sayangnya, seperti yang diungkapkan oleh berbagai analis, Jepang kembali dihadapkan pada "paradoks kesempurnaan"—mereka bermain hampir sempurna namun masih belum cukup untuk menembus elite dunia.
Korea Selatan: Harapan yang Pupus
Berbeda dengan Jepang, perjalanan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 berakhir dengan kekecewaan. Tim berjuluk Taegeuk Warriors yang tergabung dalam Grup A bersama Meksiko, Afrika Selatan, dan Republik Ceko, mengawali turnamen dengan langkah positif namun akhirnya harus tersingkir di fase grup.
Awal yang Manis, Akhir yang Pahit
Korea Selatan membuka perjalanan mereka dengan kemenangan comeback 2-1 atas Republik Ceko. Meski sempat tertinggal lebih dulu melalui gol Ladislav Krejci, Korea Selatan mampu bangkit dan membalas dua gol melalui Hwang In-beom dan Oh Hyeon-gyu. Kemenangan ini menjadi awal yang menjanjikan bagi skuad asuhan Hong Myung-bo.
Namun, performa mereka menurun drastis pada dua pertandingan berikutnya. Korea Selatan harus mengakui keunggulan tuan rumah Meksiko dengan skor 1-0, sebelum akhirnya ditumbangkan Afrika Selatan dengan skor identik 1-0 pada laga pamungkas Grup A yang berlangsung di Stadion Monterrey, Meksiko. Gol tunggal kemenangan Afrika Selatan dilesakkan oleh Thapelo Maseko pada menit ke-63 babak kedua.
Meski Korea Selatan mencoba mengejar ketertinggalan—termasuk memasukkan sang bintang Son Heung-min di paruh kedua—lini pertahanan Bafana Bafana yang dikawal ketat oleh penjaga gawang Ronwen Williams tampil gemilang dan menggagalkan sejumlah peluang emas, termasuk sundulan tajam Park Jin-seob di masa injury time.
Tersingkir dari Jalur Peringkat Ketiga Terbaik
Dengan mengoleksi tiga poin dari satu kemenangan dan dua kekalahan, Korea Selatan finis di posisi ketiga Grup A. Dalam format baru Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 tim, dua tim terbaik dari setiap grup lolos otomatis ke babak gugur, sementara delapan tim peringkat ketiga terbaik juga mendapatkan kesempatan melanjutkan perjalanan.
Korea Selatan sempat berharap hasil pertandingan dari grup lain dapat membuka peluang terakhir. Namun, kepastian tersingkirnya Korea Selatan terjadi setelah hasil pertandingan Grup K antara Republik Demokratik Kongo dan Uzbekistan tidak menguntungkan bagi peluang Taeguk Warriors. Republik Demokratik Kongo menang 3-1 atas Uzbekistan dan mengamankan posisi yang membuat Korea Selatan tidak mampu mengejar delapan besar tim peringkat ketiga terbaik.
Di klasemen peringkat ketiga terbaik Piala Dunia 2026, Korea Selatan berada di posisi sembilan, sementara hanya delapan tim teratas yang berhak lolos ke fase gugur. Kegagalan ini menjadi hasil yang mengecewakan bagi Korea Selatan yang sebelumnya memiliki pengalaman panjang tampil di ajang Piala Dunia.
China: Absen di Lapangan, Hadir di Mana-mana
Salah satu cerita paling menarik dari Piala Dunia 2026 adalah ketidakhadiran Timnas China. Tim nasional putra China tidak akan berada di Amerika Utara pada musim panas 2026. Namun, yang menarik, China tetap hadir di hampir seluruh ekosistem turnamen. Sebuah artikel di Asia Times menggambarkan fenomena ini sebagai "paradoks yang paling terlihat dalam Piala Dunia 2026".
Dalam proses kualifikasi, China harus menghadapi perjalanan yang berat. Mereka tergabung dalam Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia bersama Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan Indonesia. Nasib China semakin sulit setelah menderita kekalahan telak 0-7 dari Jepang dalam salah satu pertandingan kualifikasi. Selain itu, China juga kalah 0-1 dari Korea Selatan, 0-1 dari Qatar, dan 0-2 dari Australia di laga tandang.
Meski sempat meraih kemenangan 2-1 atas Indonesia, China tetap berada di posisi juru kunci Grup C. Kekalahan dari Jepang dengan skor telak 0-7 menjadi pukulan berat bagi ambisi China untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Akibatnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa edisi, China absen dari panggung Piala Dunia.
Ketidakhadiran China di lapangan menjadi kontras dengan kehadiran mereka di berbagai aspek lain turnamen—mulai dari sponsor, peralatan pertandingan, hingga produk-produk yang membanjiri pasar penggemar sepak bola di seluruh dunia. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sepak bola sebuah negara tidak selalu tercermin dari kehadiran tim nasionalnya di turnamen.
Korea Utara: Jauh dari Sorotan
Korea Utara juga gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Kepastian itu didapat setelah Korea Utara kalah 1-2 dari Uni Emirat Arab pada pertandingan kedelapan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup A. Dengan hanya mengoleksi dua poin dari delapan pertandingan, Korea Utara tidak mampu mengejar ketertinggalan dari tim-tim lain di grupnya.
Sebelumnya, Korea Utara juga mengalami kesulitan dalam menyelenggarakan pertandingan kandang. Kyodo News melaporkan bahwa Korea Utara mengungkapkan kesulitan mereka dalam menyelenggarakan pertandingan keempat babak kualifikasi Asia melawan Jepang yang dijadwalkan berlangsung di Pyongyang. Kendala logistik dan infrastruktur menjadi faktor yang mempersulit perjalanan Korea Utara dalam kualifikasi.
Kegagalan Korea Utara lolos ke Piala Dunia 2026 mengulangi catatan mereka di edisi sebelumnya. Meski demikian, rekor tim dengan peringkat terendah yang pernah lolos ke Piala Dunia masih dipegang oleh Korea Utara yang duduk di peringkat 105 dunia ketika lolos ke Piala Dunia 2010.
Australia: Satu-satunya Harapan yang Tersisa
Australia, yang secara geografis berada di Oseania namun menjadi anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), tampil sebagai satu-satunya wakil Asia Timur yang masih bertahan di Piala Dunia 2026 hingga babak gugur. Bersama Jepang, Australia adalah dua tim Asia yang lolos dari babak penyisihan grup.
Namun, setelah Jepang tersingkir oleh Brasil, Australia menjadi satu-satunya perwakilan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang tersisa di turnamen. Mereka dijadwalkan menghadapi Mesir pada babak 32 besar yang berlangsung pada 4 Juli 2026. Kinerja Australia menjadi penentu apakah Asia akan memiliki wakil di babak 16 besar atau seluruh perwakilan Asia harus pulang lebih cepat.
Evaluasi Keseluruhan: Prestasi dan Kegagalan Asia Timur
Dari sembilan wakil Asia yang ambil bagian di Piala Dunia 2026, hanya Jepang dan Australia yang berhasil lolos ke babak gugur. Korea Selatan dan Iran sempat masuk ke dalam daftar kandidat peringkat tiga terbaik meski pada akhirnya harus tersingkir. Sementara itu, Qatar, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Uzbekistan tersingkir setelah finis di posisi terbawah grup mereka.
Performa Asia di Piala Dunia 2026 menunjukkan penurunan dibandingkan edisi sebelumnya. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, tiga tim Asia—Jepang, Australia, dan Korea Selatan—berhasil lolos ke babak 16 besar. Kini, dengan jumlah peserta yang bertambah dari 32 menjadi 48 tim, justru hanya dua wakil Asia yang mampu menembus babak gugur.
Namun, ada juga catatan positif. Pada fase awal, performa tim Asia terbilang impresif. Mereka bahkan sempat menjadi konfederasi yang belum terkalahkan di laga pembuka. Korea Selatan membuka kiprah dengan kemenangan penting atas Ceko, Jepang menahan imbang Belanda, dan Iran bermain imbang melawan Selandia Baru. Hingga enam pertandingan pertama, seluruh wakil Asia berhasil menjaga catatan tanpa kekalahan dengan mengoleksi dua kemenangan dan empat hasil imbang.
Namun, konsistensi menjadi masalah utama. Tim-tim Asia mulai kehabisan tenaga di pertengahan turnamen, sehingga sulit bagi mereka untuk menciptakan kejutan besar. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola Asia ke depan—bahwa memiliki awal yang baik tidak cukup jika tidak diimbangi dengan daya tahan dan konsistensi sepanjang turnamen.
Kesimpulan: Jalan Panjang Sepak Bola Asia Timur
Piala Dunia 2026 menjadi cermin bagi sepak bola Asia Timur. Jepang menunjukkan bahwa dengan disiplin taktik dan persiapan matang, tim Asia mampu bersaing dengan elite dunia. Namun, mereka masih harus mencari jawaban atas pertanyaan: apa yang harus dilakukan untuk benar-benar menembus elite sepak bola dunia?
Korea Selatan, di sisi lain, harus merenungkan kegagalan mereka setelah awal yang menjanjikan. Dua kekalahan beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan menjadi pelajaran bahwa konsistensi adalah kunci dalam turnamen sepak bola. Sementara itu, China dan Korea Utara harus bekerja lebih keras dalam pengembangan sepak bola domestik untuk bisa kembali bersaing di panggung dunia.
Perjalanan Asia Timur di Piala Dunia 2026 mungkin tidak secemerlang yang diharapkan, tetapi setiap pengalaman—baik manis maupun pahit—adalah bahan bakar untuk terus melangkah maju. Seperti yang dikatakan banyak pengamat, jarak antara tim Asia dan tim elite dunia semakin menipis. Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi, kesabaran, dan investasi berkelanjutan dalam pengembangan sepak bola di semua level.
Dengan Piala Dunia 2026 yang masih menyisakan pertandingan-pertandingan menarik di babak gugur, harapan kini tertumpu pada Australia sebagai satu-satunya wakil Asia yang tersisa. Semoga perjalanan mereka menginspirasi kebangkitan sepak bola Asia Timur di masa depan.
