Review Anime Blue Lock vs U-20 Japan: Pertarungan Egonya Sepak Bola Jepang
![]() |
| Blue Lock vs. U-20 Japan (Primevideo.com) |
TEGASIAN - Anime Blue Lock telah menjadi fenomena besar di dunia anime olahraga sejak musim pertamanya tayang. Konsep unik tentang 300 striker muda yang bertarung dalam “penjara biru” untuk melahirkan satu striker terbaik di dunia berhasil menyedot perhatian penggemar di seluruh dunia. Setelah kesuksesan musim pertama, penggemar menantikan kelanjutan kisah Yoichi Isagi dan kawan-kawan dalam arc yang paling dinanti: pertandingan melawan tim nasional U-20 Jepang. Musim kedua yang bertajuk Blue Lock vs. U-20 Japan resmi tayang mulai 5 Oktober 2024 hingga 28 Desember 2024 dengan total 14 episode. Lantas, apakah adaptasi anime ini mampu memenuhi ekspektasi tinggi para penggemar? Mari kita ulas secara mendalam.
Sinopsis dan Latar Belakang Pertandingan
Musim kedua Blue Lock vs. U-20 Japan mengambil cerita tepat setelah seleksi kedua berakhir. Dari 300 pemain yang awalnya mengikuti program Blue Lock, hanya tersisa 35 striker yang berhasil bertahan. Ego Jinpachi, sang arsitek di balik proyek gila ini, kemudian mengumumkan tantangan terbesar: membentuk tim bernama Blue Lock Eleven untuk menghadapi tim nasional U-20 Jepang dalam sebuah pertandingan ekshibisi.
Taruhan dalam pertandingan ini sangat besar. Jika Blue Lock menang, mereka berhak mengambil alih posisi tim nasional U-20 Jepang. Namun jika kalah, program Blue Lock harus dibubarkan dan karier sepak bola para pesertanya berakhir selamanya. Inilah inti ketegangan yang membangun sepanjang arc ini—bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa, melainkan pertaruhan masa depan seluruh pemain Blue Lock.
Kualitas Animasi: Kontroversi yang Mendominasi
Salah satu topik paling hangat yang dibicarakan penggemar sepanjang penayangan musim kedua adalah kualitas animasi yang sangat kontroversial. Banyak penggemar yang merasa kecewa karena animasi musim kedua jauh di bawah standar musim pertama. Bahkan, beberapa penggemar menyebut musim ini sebagai “PNG Lock” atau “PowerPoint presentation” karena banyak adegan yang terasa statis dan minim gerakan.
Seorang pengulas di MyAnimeList menggambarkan pengalamannya: “Saya sudah membaca manga dan bisa bilang ini salah satu manga terbaik, tapi musim ini sangat kasar—sekitar 60% animenya tidak memiliki gerakan di adegan yang seharusnya berlari atau menendang”. Pengulas lain bahkan menyebut bahwa animasi di episode 2 “hampir tidak bisa ditonton”. Seorang animator yang terlibat dalam produksi musim ini mengungkapkan bahwa kondisi produksi sangat buruk—gaji rendah, tenggat waktu yang mustahil, dan banyak urutan animasi yang sudah selesai justru ditolak oleh komite produksi dan diganti dengan bingkai diam.
Kritik ini bukan tanpa alasan. Blue Lock adalah anime yang mengandalkan aksi intens, gerakan cepat, dan momen-momen dramatis di lapangan hijau. Ketika animasi gagal menghadirkan kelancaran gerakan, daya tarik utamanya menjadi hilang. Seperti yang diungkapkan salah satu penggemar, “Tidak ada satu pun kelancaran dalam animasi. Episode 2 dan 3 sangat parah—mereka bahkan tidak berusaha menyembunyikan PNG”.
Namun demikian, ada secercah harapan di akhir musim. Episode 13 dan 14—yang merupakan episode pamungkas—mendapat pujian atas kualitas animasinya yang meningkat drastis. Dua episode terakhir ini digambarkan sebagai “episode terbaik Blue Lock dari semua sudut” dengan “animasi 10/10”. Terutama 15 menit terakhir di episode final disebut-sebut memiliki kualitas animasi setara dengan anime-anime papan atas seperti Jujutsu Kaisen. Sayangnya, peningkatan ini hanya terjadi di akhir, sementara delapan episode di antaranya dikhususkan untuk pertandingan melawan U-20 dengan kualitas yang tidak merata.
Pengembangan Karakter dan Narasi
Meskipun animasi menjadi sorotan negatif, aspek cerita dan pengembangan karakter justru mendapatkan banyak pujian. Arc U-20 di manga memang dikenal sebagai salah satu arc terbaik tidak hanya dalam genre anime olahraga, tetapi dalam seluruh industri anime secara umum.
Salah satu kekuatan terbesar musim ini adalah pengenalan dan pengembangan karakter-karakter baru maupun lama. Di sisi Blue Lock, hadir pemain seperti Yo Hiori dan Nijiro Nanase yang mendapat porsi cerita yang layak, bukan sekadar menjadi penghalang bagi para protagonis. Sementara itu, di sisi tim U-20 Jepang, Oliver Aiku menjadi sorotan utama. Aiku sebenarnya bercita-cita menjadi striker, namun terpaksa beradaptasi menjadi bek karena kemampuannya yang luar biasa dalam membaca permainan. Konflik internal antara ambisi pribadi dan kepentingan tim ini memberikan kedalaman emosional pada karakter yang seharusnya hanya menjadi musuh tanpa wajah.
Dinamika antara dua bersaudara Itoshi—Rin dan Sae—menjadi motor emosional yang menggerakkan seluruh musim. Sae Itoshi, kakak laki-laki Rin yang diakui sebagai pemain terbaik Jepang, bergabung dengan tim U-20 dan menjadi antagonis utama. Hubungan rumit antara dua bersaudara ini dieksplorasi melalui kilas-balik yang mendalam, menciptakan ketegangan psikologis yang membuat setiap momen pertemuan mereka terasa bermakna.
Rin Itoshi sendiri mengalami perkembangan karakter yang signifikan. Obsesinya untuk mengalahkan kakaknya mendorongnya memasuki “flow state”—kondisi di mana ia menjadi tiran absolut yang mampu menjebak lawan dalam ilusi kekuatan sebelum menghancurkan mereka di area keunggulan mereka sendiri. Momen ketika Rin “menjadi monster” di episode final disebut sebagai salah satu highlight terbaik musim ini.
Jalannya Pertandingan dan Momen-Momen Kunci
Pertandingan antara Blue Lock Eleven dan tim U-20 Jepang baru benar-benar dimulai pada episode 6 yang berjudul “The Big Stage”. Sebelumnya, beberapa episode awal digunakan untuk persiapan dan seleksi pemain yang akan masuk dalam skuad inti.
Pertandingan berlangsung sengit dengan skor akhir 4-3 untuk kemenangan Blue Lock. Gol pertama dicetak oleh Sae Itoshi untuk tim U-20 Jepang melalui tendangan sudut yang memukau, membuat skor menjadi 0-1. Blue Lock kemudian menyamakan kedudukan melalui gol spektakuler dari Seishiro Nagi yang sukses mengecohkan pertahanan lawan dengan tendangan jebakannya, skor menjadi 1-1.
Rin Itoshi kemudian membawa Blue Lock unggul 2-1 berkat kemampuannya memanfaatkan Isagi sebagai umpan dan mengelabui kapten U-20, Oliver Aiku. Namun tim U-20 tidak menyerah begitu saja. Shidou Ryusei, pemain yang semula merupakan kandidat pengganti Rin di Blue Lock namun akhirnya bergabung dengan U-20, berhasil mencetak dua gol dan membawa tim U-20 unggul 3-2.
Puncak ketegangan terjadi di menit-menit akhir pertandingan. Di sinilah peran Isagi Yoichi sebagai “pemain yang mampu membaca permainan” benar-benar bersinar. Isagi berhasil berada di posisi yang tepat dan mencetak gol penentu kemenangan di detik-detik terakhir. Gol ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil perhitungan matang dan kemampuannya menganalisis situasi lebih baik dari siapa pun di lapangan.
Perbandingan dengan Manga
Bagi para pembaca manga, arc U-20 diadaptasi dari chapter 94 hingga 149 dari seri Blue Lock. Banyak penggemar manga yang merasa bahwa adaptasi anime tidak mampu menangkap esensi dan intensitas dari sumber aslinya. Seorang pengulas bahkan menyatakan, “Manga-nya terhina jika dibandingkan dengan adaptasi ini”. Hal ini terutama disebabkan oleh ketidakmampuan animasi dalam menerjemahkan panel-panel manga yang dinamis dan penuh aksi ke dalam gerakan yang mengalir.
Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa tantangan adaptasi ini memang berat. Arc U-20 di manga sangat padat dengan monolog internal taktis Isagi yang menjelaskan setiap pergerakan di lapangan. Menerjemahkan narasi yang berat ini ke dalam format anime tanpa mengorbankan esensi Blue Lock memang bukan tugas mudah.
Akses dan Penayangan di Indonesia
Kabar baik bagi penggemar di Indonesia, Blue Lock vs. U-20 Japan resmi hadir di Netflix mulai 25 Mei 2026. Kehadiran di platform streaming global ini membuka akses lebih luas bagi penggemar yang mungkin melewatkan tayangan perdana di Jepang pada Oktober 2024 lalu. Dengan 14 episode berdurasi sekitar 23 menit per episode, musim kedua ini dapat dinikmati dalam waktu singkat—cocok untuk marathon di akhir pekan.
Kesimpulan: Antara Kekecewaan dan Kebangkitan
Blue Lock vs. U-20 Japan adalah anime yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, kualitas animasi yang tidak konsisten—bahkan cenderung buruk di sebagian besar episode—menjadi noda besar yang sulit diabaikan. Banyak penggemar yang merasa kecewa karena arc yang dianggap terbaik dalam manga justru mendapatkan adaptasi yang “setengah hati”.
Namun di sisi lain, kekuatan cerita, pengembangan karakter yang mendalam, dan momen-momen klimaks yang luar biasa di episode-episode akhir berhasil menyelamatkan musim ini dari kegagalan total. Pengembangan Rin dan Sae Itoshi, konflik internal Oliver Aiku, serta momen gemilang Isagi di detik-detik terakhir memberikan pengalaman emosional yang tetap memuaskan bagi mereka yang bisa melihat melampaui kekurangan visual.
Seperti yang diungkapkan salah satu pengulas, “Musim ini layak ditonton, setidaknya untuk episode terakhir”. Bagi penggemar sejati Blue Lock, arc U-20 tetaplah wajib ditonton—baik untuk menyaksikan kebangkitan di akhir maupun untuk memahami mengapa arc ini begitu dicintai di komunitas manga. Namun bagi mereka yang mencari pengalaman animasi olahraga yang mulus dari awal hingga akhir, mungkin lebih baik menikmati versi manganya terlebih dahulu sambil berharap produksi musim ketiga nanti bisa lebih baik.
Satu hal yang pasti: Blue Lock telah membuktikan bahwa bahkan dengan keterbatasan produksi, kekuatan narasi dan karisma karakternya tetap mampu membuat penonton terpaku di depan layar—terbukti dari rating tinggi yang diberikan banyak pengulas untuk episode-episode terakhirnya. Ini adalah bukti bahwa di balik segala kontroversi, esensi Blue Lock sebagai kisah tentang ego, ambisi, dan perjuangan untuk menjadi yang terbaik tetap bersinar terang.
