Review Anime Food Wars: Antara Kuliner, Drama, dan Kontroversi
![]() |
| Food Wars! (Disneyplus.com) |
TEGASIAN - Food Wars! Shokugeki no Soma merupakan salah satu anime bergenre kuliner yang paling ikonik dan kontroversial dalam dekade terakhir. Diadaptasi dari manga karya Yuto Tsukuda dengan ilustrasi Shun Saeki, anime yang diproduksi oleh studio J.C. Staff ini tayang perdana pada tahun 2015 dan berhasil menarik perhatian penggemar anime di seluruh dunia. Dengan total 86 episode yang tersebar dalam lima musim hingga tahun 2020, serial ini tidak hanya menawarkan tontonan tentang masakan, tetapi juga menghadirkan drama persaingan yang intens, karakter-karakter yang unik, serta kontroversi yang tak terhindarkan.
Memasuki tahun 2025 dan 2026, Food Wars kembali menjadi perbincangan hangat. Musim kedua-nya, The Second Plate, tiba-tiba hadir di platform streaming Hulu pada September 2025 setelah sebelumnya menghilang dari Crunchyroll selama bertahun-tahun. Kembalinya serial ini ke layanan streaming membuka kesempatan bagi generasi baru penonton untuk menyaksikan perjalanan kuliner Yukihira Soma dari awal hingga akhir. Lantas, apakah anime ini masih relevan dan layak ditonton? Mari kita ulas secara mendalam.
Sinopsis dan Premis: Anak Kedai Makanan Melawan Elit Kuliner
Cerita Food Wars berpusat pada Yukihira Soma, seorang remaja laki-laki yang bekerja di restoran keluarganya dan bermotivasi untuk melampaui kemampuan memasak sang ayah. Suatu hari, sang ayah memutuskan untuk menutup restoran dan mengirim Soma ke Akademi Kuliner Tootsuki, sebuah sekolah kuliner bergengsi yang terkenal dengan persaingannya yang sangat ketat. Di sekolah ini, hanya sepuluh persen siswa yang berhasil lulus.
Yang membuat premis ini menarik adalah sistem shokugeki—duel memasak di mana dua koki bertarung, juri menilai, dan pemenang mengambil semua kekalahan. Yang kalah bisa dikeluarkan dari akademi, kehilangan klub mereka, atau harus bekerja untuk pemenang. Soma masuk ke Totsuki sebagai orang biasa dari kedai makan sederhana, dikelilingi oleh anak-anak kaya yang telah berlatih di kastil-kastil Prancis sejak mereka bisa berjalan. Dia tidak memiliki uang atau bahan-bahan mewah mereka. Yang dia miliki adalah pengalaman lima belas tahun menjalankan dapur restoran dan kemampuan untuk berpikir cepat ketika keadaan berubah.
Karakter-Karakter yang Tak Terlupakan
Salah satu kekuatan utama Food Wars adalah karakternya yang berkesan. Soma Yukihira adalah protagonis dengan energi percaya diri yang menjadi kejutan budaya bagi seluruh sekolah kuliner. Dia bukan tipikal pahlawan shonen yang sempurna; dia adalah koki jalanan yang harus berjuang dengan keterbatasannya.
Tidak kalah menarik adalah Megumi Tadokoro, seorang gadis manis dari daerah terpencil yang awalnya tampak seperti gadis cemas klasik, namun perlahan-lahan menunjukkan pertumbuhan dan ketahanan yang mengesankan. Hubungannya dengan Soma menjadi salah satu dinamika terbaik dalam serial ini.
Para penghuni Asrama Polar Star juga memberikan warna tersendiri. Ada Satoshi Isshiki yang setengah waktu berlarian hanya mengenakan celemek, tetapi dia adalah prodigi kuliner yang duduk di Elite Ten—dewan siswa yang pada dasarnya menjalankan sekolah. Karakter-karakter ini terasa berbeda dan tidak menyatu seperti figuran latar belakang.
Dari sisi antagonis, kehadiran Azami Nakiri, ayah Erina, di musim ketiga menjadi titik balik dramatis. Pengambilalihan sekolahnya dan penerapan "rezim sentral" mengancam kebebasan kreatif para siswa. Kembalinya Erina Nakiri ke pusat plot, menghadapi ayahnya dan trauma masa lalunya, menambah dimensi emosional yang kuat pada musim ini.
Animasi dan Musik: Pesta Visual yang Menggugah Selera
Dari segi visual, Food Wars adalah pesta bagi mata. Studio J.C. Staff membawa tim konsultan kuliner sungguhan, Yuki Morisaki, untuk memastikan bahwa ketika karakter membahas teknik memasak, mereka tidak mengada-ada. Animasi makanan mencapai level puncak, dengan uap dan tekstur saus yang terlihat lebih baik daripada kehidupan nyata.
Salah satu review menyebutkan bahwa Food Wars "penuh dengan aksen CG yang tajam, komposisi yang bersih, dan konsistensi yang jarang terlihat dalam tayangan yang mengandalkan momen-momen besar yang siap menjadi GIF". Gaya animasi yang hidup dan penuh warna, desain karakter yang sederhana namun menarik, serta penyajian makanan yang selalu digambarkan sebagai harta karun ilahi berhasil membuat penonton tergoda untuk mencoba apa yang ada di layar.
Untuk musik, soundtrack-nya tetap solid dengan lagu pembuka dan penutup yang bertema J-rock, sesuai dengan nuansa anime secara keseluruhan.
Kontroversi Fan Service: Antara Daya Tarik dan Penghalang
Tidak bisa dipungkiri, salah satu aspek paling kontroversial dari Food Wars adalah penggunaan fan service yang berlebihan. Setiap kali karakter mencicipi makanan, mereka sering bereaksi dengan cara yang vulgar dan berlebihan—adegan yang oleh penonton disebut sebagai "foodgasms". Adegan-adegan ini membuat serial ini tidak ramah untuk ditonton keluarga.
Banyak pengulas merasa frustrasi karena ada tayangan kuliner yang sah dan bagus terkubur di bawah lapisan seksualisasi yang tidak perlu. Konten memasak terperinci dan edukatif, format kompetisi menarik, dan tema tentang kerja keras cukup solid. Namun, semua itu terkadang tenggelam oleh adegan ekchi yang berlebihan. Seorang pengulas mencatat bahwa jika elemen seksual tersebut setidaknya dikurangi, serial ini akan dengan mudah mencapai skor 8-9.
Meski demikian, ada pula yang berpendapat bahwa absurditas inilah yang justru menjadi bagian dari pesona Food Wars. Sebuah ulasan menyebutkan bahwa Food Wars adalah "salah satu anime yang terasa konyol di atas kertas, tetapi entah bagaimana mengubah absurditas itu menjadi bagian dari pesonanya". Bagi penonton yang bisa menerima kekonyolan ini, mereka akan menemukan serial yang memperlakukan memasak dengan intensitas yang sama seperti anime lain memperlakukan perang ninja atau pertarungan robot raksasa.
Perjalanan Musim: Kejayaan dan Penurunan Kualitas
Musim 1-2: Awal yang Menggoda
Musim pertama bergerak cepat. Soma membuat setengah sekolah memusuhinya selama ujian masuk dengan menyatakan bahwa dia akan menjadi koki teratas, yang ditertawakan semua orang sampai dia mulai mengalahkan mereka. Arc Training Camp di musim pertama menjadi bukti bahwa serial ini bukan sekadar fan service dengan resep. Para siswa tahun pertama dikirim ke resor di mana alumni terkenal menilai masakan mereka. Gagal dua kali dan Anda langsung dikeluarkan. Tidak ada kesempatan kedua.
Musim kedua menghadirkan Autumn Election, arc turnamen yang masuk dalam jajaran terbaik dalam shonen modern. Empat puluh siswa baru berkompetisi dalam braket eliminasi tunggal. Alih-alih memperkenalkan lima puluh karakter baru yang tidak Anda pedulikan, tayangan ini fokus pada karakter yang sudah Anda kenal.
Musim 3: Puncak Ketegangan
Musim ketiga, yang terbagi menjadi dua bagian, dianggap oleh banyak pengulas sebagai puncak dari serial ini. Seorang pengulas menyebut musim ketiga bagian pertama "sedikit lebih baik daripada dua musim lainnya" dengan plot yang menarik dan duel yang tetap seru. Sorotan termasuk duel antara Soma dan Terunori Kuga selama Festival Bulan, di mana Soma harus bersaing dengan ahli masakan Tiongkok dalam pertarungan popularitas dan rasa.
Musim 4-5: Penurunan yang Mengecewakan
Sayangnya, kualitas Food Wars mulai menurun setelah musim keempat. Banyak penggemar berpendapat bahwa cerita seharusnya berakhir di sini, setelah Soma dan Erina memenangkan kemenangan besar dalam shokugeki berisiko tinggi. Namun, musim kelima tetap hadir.
Musim kelima terasa seperti pengulangan dari musim keempat tanpa alasan yang jelas, melemparkan Erina dan Soma ke turnamen BLUE yang dihuni oleh koki-koki yang lebih aneh dan norak. Seorang pengulas dengan tegas menyatakan bahwa musim kelima adalah "yang terburuk dibandingkan dengan sebelumnya" dan "terlihat sangat konyol". Yang lain menyebut musim kelima sebagai "kekecewaan nyata" dengan produksi yang di bawah musim-musim sebelumnya, seolah-olah anggarannya lebih kecil. Meski demikian, musim kelima tetap menutup serial dengan cara yang memuaskan bagi sebagian penonton, menawarkan resolusi untuk berbagai alur cerita dan kesimpulan yang mengharukan.
Akhir Cerita yang Kontroversial
Salah satu kritik terbesar terhadap Food Wars adalah akhir ceritanya yang dianggap gagal di berbagai tingkatan. Kritik paling besar adalah bahwa Soma dan Erina tidak secara resmi menjadi pasangan. Banyak yang berharap hubungan mereka berkembang menjadi romansa, mengingat dinamika yang telah dibangun sepanjang serial. Ketidakjelasan ini membuat akhir cerita terasa kurang memuaskan.
Seorang pengulas menggambarkan akhir cerita terasa "dipercepat" dengan montase yang tidak berguna yang menunjukkan apa yang dilakukan siswa Totsuki lainnya selama BLUE. Yang lain menyebut akhir cerita "sangat buruk" dan mengecewakan. Namun, ada juga yang menemukan kepuasan dalam akhir cerita, terutama adegan terakhir yang kembali ke restoran keluarga dan memberikan rasa nostalgia yang kuat.
Apakah Food Wars Masih Layak Ditonton pada 2026?
Jawabannya tergantung pada apa yang Anda cari. Jika Anda mencari anime dengan cerita yang rumit dan karakter yang ditulis dengan baik yang berpadu seperti risotto omelette kari, ini bukan tayangan untuk Anda. Namun, jika Anda ingin menonton "makanan cepat saji dari anime" yang akan memberi Anda kesenangan yang sama seperti Triple Baconator, Food Wars adalah pilihan yang tepat.
Bagi penggemar kuliner, serial ini menawarkan wawasan yang mengejutkan tentang teknik memasak dan kreativitas di dapur. Banyak penonton yang benar-benar mencoba membuat hidangan yang ditampilkan dalam anime. Food Wars adalah tayangan yang hebat jika Anda sudah menikmati memasak atau bahkan ingin belajar dari awal.
Dari segi aksesibilitas, kabar baiknya adalah Food Wars kini dapat ditonton secara berurutan berkat kehadirannya di Hulu untuk musim pertama dan kedua, serta di Crunchyroll untuk musim-musim berikutnya. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun penggemar dapat mengalami cerita secara lengkap tanpa gangguan.
Kesimpulan: Warisan Food Wars dalam Dunia Anime
Food Wars! Shokugeki no Soma adalah anime yang meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam genre kuliner. Dengan perpaduan unik antara edukasi kuliner, drama kompetisi, dan fan service kontroversial, serial ini berhasil menciptakan ruangnya sendiri dalam fandom anime.
Meskipun mengalami penurunan kualitas di musim-musim akhir dan akhir cerita yang mengecewakan banyak penggemar, empat musim pertama Food Wars tetap menjadi pengalaman menonton yang menghibur dan adiktif. Animasi yang indah, karakter yang berkesan, dan duel kuliner yang menegangkan menjadikannya rekomendasi yang layak bagi mereka yang mencari tontonan ringan namun penuh gaya.
Pada akhirnya, Food Wars adalah bukti bahwa bahkan premis yang paling konyol sekalipun dapat menjadi sesuatu yang istimewa jika dieksekusi dengan baik. Seperti yang dikatakan seorang pengulas, "tidak pernah saya pikir saya akan menonton anime memasak dan mengikutinya sampai akhir—karakternya pedas, pembangunan dunianya keren, dinamika karakternya dalam, animasi memasaknya gila, dan eksekusi tayangan ini sepresisi dan seperfek memasak yang ditampilkannya". Bagi mereka yang bisa menerima absurditas dan kontroversinya, Food Wars menawarkan pengalaman anime yang tak terlupakan—sebuah pesta visual dan emosional yang sayang untuk dilewatkan.
