Review Anime May I Ask for One Final Thing? – Saat Sang Putri Menghajar Para Bangsawan
![]() |
| May I Ask for One Final Thing? (Crunchyroll.com) |
TEGASIAN - Anime bergenre villainess memang sudah menjadi primadona dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di tengah menjamurnya cerita tentang wanita yang diisukan sebagai penjahat lalu mendapatkan balasan manis, hadirlah May I Ask for One Final Thing? yang membawa angin segar. Serial ini tidak hanya mengusung tema revenge seperti kebanyakan, tetapi juga menyuguhkan aksi brutal yang dibalut dengan kemasan elegan seorang bangsawan. Tayang perdana pada musim gugur 2025, anime ini langsung mencuri perhatian para penggemar genre action, comedy, dan romance. Dengan judul yang terdengar sopan namun menyimpan makna menghancurkan, May I Ask for One Final Thing? berhasil menawarkan pengalaman menonton yang unik dan menghibur.
Sinopsis dan Premis Cerita yang Menyegarkan
Cerita berpusat pada Scarlet El Vandimion, seorang putri bangsawan yang sejak kecil lebih suka menyelesaikan masalah dengan tinjunya. Namun, demi menjaga citra keluarganya, Scarlet menekan naluri kekerasannya dan bertahan dalam pertunangan yang penuh penderitaan dengan Pangeran Kedua Kyle von Pallistan, seorang pemuda kekanak-kanakan yang kerap menyiksanya. Scarlet telah bertahun-tahun menahan diri dan bersikap anggun karena jika ia membalas, pertunangan akan batal dan keluarganya akan terhina.
Puncaknya terjadi di sebuah pesta dansa kerajaan, ketika Kyle secara tiba-tiba dan di depan umum membatalkan pertunangan mereka. Kyle menuduh Scarlet sebagai seorang bully dan villainess, dan mengumumkan cintanya kepada seorang gadis bernama Terenezza Hopkins. Namun yang Kyle dan semua bangsawan korup di ruangan itu tidak sadari adalah bahwa Scarlet telah lama menunggu momen ini. Bebas dari ikatan pertunangan, Scarlet tidak lagi terikat untuk menghormati Kyle. Dengan senyum sopan, ia mengajukan satu permintaan terakhir: “May I ask for one final thing?”—dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung menghajar Kyle, Terenezza, dan seluruh bangsawan yang turut mempermalukannya.
Adegan pembuka ini menjadi hook yang sempurna. Alih-alih menjadi klimaks seperti pada umumnya cerita otome, momen penghukuman ini justru menjadi awal petualangan Scarlet. Dalam prosesnya, Scarlet tanpa sengaja mengungkap berbagai kejahatan yang dilakukan Kyle dan para kroninya, mulai dari korupsi hingga perdagangan budak. Di sinilah Pangeran Pertama Julius, kakak Kyle yang telah lama menyelidiki kejahatan adiknya, mulai melirik Scarlet dan merekrutnya ke dalam tim investigasi.
Karakter Utama yang Kuat dan Memikat
Salah satu kekuatan terbesar anime ini adalah tokoh utamanya, Scarlet El Vandimion. Ia adalah protagonis wanita yang langka—cantik, anggun, berbusana merah menyala dengan anting-anting menyerupai percikan darah, namun sama sekali tidak segan untuk menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Scarlet digambarkan sebagai sosok yang sangat menikmati pertarungan, bahkan sejak kecil ia sudah terlihat tersenyum lebar sambil berlumuran darah setelah menghajar seseorang.
Yang membuat Scarlet menarik adalah karakternya tidak sekadar mindless brawler. Di balik kecintaannya pada kekerasan, ia memiliki sisi empati dan kasih sayang yang tulus. Ia membela keadilan dan tidak pernah membunuh manusia, meskipun darah sering kali berceceran di setiap pertarungannya. Scarlet adalah pahlawan yang brutal namun berprinsip, dan penonton dengan mudah terhibur melihatnya menghajar para bangsawan korup sambil tetap mempertahankan sikap seorang lady.
Pangeran Pertama Julius von Pallistan hadir sebagai love interest sekaligus mitra yang sempurna bagi Scarlet. Tidak seperti pangeran baik hati pada umumnya, Julius sama gilanya dengan Scarlet. Ia menikmati memprovokasi Scarlet dan sepenuhnya mendukung impiannya yang hampir membunuh, menjadikan dinamika hubungan mereka salah satu bagian terbaik dari cerita. Di sisi lain, Kyle von Pallistan, sang mantan tunangan, digambarkan sebagai antagonis yang sempurna untuk dibenci—seorang nepo baby sadis yang dengan mudah terpengaruh oleh wanita lain. Terenezza Hopkins, wanita perebut tunangan Scarlet, juga hadir sebagai antagonis yang menyimpan berbagai rencana untuk menjadi ratu, meskipun beberapa kritikus menilai karakternya kurang dieksplorasi secara maksimal.
Animasi, Musik, dan Produksi
May I Ask for One Final Thing? diproduksi oleh LIDENFILMS Kyoto Studio di bawah arahan sutradara Kazuya Sakamoto, dengan komposisi seri oleh Deko Akao dan desain karakter oleh Eriko Haga. LIDENFILMS dikenal lewat karya-karya seperti Call of the Night dan Tokyo Revengers, dan mereka membawa gaya visual khas mereka ke dalam serial ini.
Secara keseluruhan, animasi dalam serial ini dinilai baik meskipun terdapat ketidakkonsistenan di beberapa bagian. Adegan aksi menjadi daya tarik utama, dengan Scarlet yang menghajar musuh-musuhnya diiringi musik klasik yang memberikan nuansa elegan sekaligus brutal. Meskipun beberapa kritikus mencatat bahwa animasi aksi tidak selalu mencapai puncak kualitasnya, adegan-adegan tersebut tetap terasa menghibur dan memuaskan.
Musik juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Opening theme berjudul "Senjō no Hana" yang dibawakan oleh CHiCO dengan HoneyWorks, serta ending theme "Inferior" oleh Shiyui, mendapatkan pujian tinggi. Bahkan seorang pengulas dari Plex memberikan rating sempurna untuk musik dalam serial ini. Kombinasi antara visual yang stylish dan soundtrack yang enerjik berhasil menciptakan pengalaman menonton yang imersif.
Penerimaan dan Rating
May I Ask for One Final Thing? tayang perdana pada 3 Oktober 2025 dan berakhir pada 26 Desember 2025 dengan total 13 episode, masing-masing berdurasi sekitar 23 menit. Serial ini dapat disaksikan di berbagai platform streaming seperti Crunchyroll, Netflix, dan Bilibili. Crunchyroll bahkan menyediakan opsi dub dan subtitle dalam bahasa Inggris.
Di MyAnimeList, serial ini meraih skor 7.36 dari lebih dari 65 ribu pengguna. Para pengulas umumnya memberikan tanggapan positif, dengan banyak yang memuji pendekatan segar yang dibawa serial ini terhadap genre villainess yang mulai terasa jenuh. Seorang pengulas dari Plex menyebutkan bahwa meskipun ide tentang seorang putri yang memukuli semua orang terdengar tidak masuk akal, konsep ini bekerja dengan sangat menyegarkan dan cukup menghibur. Pengulas lain dari AniTrendz mengakui bahwa mereka sangat menyukai serial ini semata-mata karena tokoh Scarlet, menyebutnya sebagai MC langka yang cantik, anggun, dan sangat mencintai pertarungan.
Namun demikian, serial ini bukannya tanpa kritik. Beberapa pengulas menyoroti kurangnya kedalaman karakter di luar Scarlet. Dunia dan alur cerita terkadang terasa dangkal, dengan berbagai spesies fantasi seperti iblis, kurcaci, dan elf yang diperkenalkan secara tiba-tiba tanpa persiapan yang memadai. Karakter pendukung lainnya juga dinilai kurang menarik dibandingkan Scarlet, sehingga cerita terasa sangat bergantung pada satu tokoh utama. Akhir cerita juga menjadi sorotan, dengan beberapa pengulas merasa kecewa karena konflik terbesar yang dibangun sepanjang serial tidak terealisasi dengan memuaskan.
Mengapa Anime Ini Layak Ditonton?
Meskipun memiliki kekurangan, May I Ask for One Final Thing? menawarkan pengalaman menonton yang unik dan menghibur. Bagi penggemar genre villainess yang bosan dengan cerita-cerita klise, serial ini memberikan angin segar melalui protagonis yang tidak ragu menggunakan kekerasan untuk menegakkan keadilan. Scarlet adalah karakter yang mudah didukung—ia adalah representasi dari rasa frustrasi yang mungkin pernah dirasakan banyak orang terhadap ketidakadilan, dan ia menyelesaikannya dengan cara yang paling memuaskan: dengan tinjunya.
Anime ini juga menyajikan perpaduan genre yang menarik. Di satu sisi, ada aksi brutal dan adegan pertarungan yang mengesankan. Di sisi lain, ada elemen komedi yang ringan dan romansa yang berkembang antara Scarlet dan Julius. Bagi mereka yang mencari tontonan santai untuk binge-watching, serial 13 episode ini adalah pilihan yang tepat.
Selain itu, relevansi tematik yang diangkat—seperti korupsi di kalangan bangsawan dan perjuangan melawan ketidakadilan—memberikan kedalaman tersendiri yang dapat diapresiasi oleh penonton dewasa. Scarlet mungkin bukan karakter yang kompleks secara psikologis, tetapi ia adalah simbol perlawanan terhadap penindasan yang sangat memuaskan untuk disaksikan.
Kesimpulan
May I Ask for One Final Thing? adalah anime yang berhasil membawa angin segar ke tengah genre villainess yang mulai jenuh. Dengan protagonis wanita yang kuat, brutal, namun tetap anggun, serial ini menawarkan hiburan yang memuaskan bagi siapa pun yang ingin melihat keadilan ditegakkan dengan cara yang paling tidak terduga: melalui pukulan demi pukulan. Animasi yang baik, musik yang memukau, dan premis yang menyegarkan menjadikannya tontonan wajib bagi para penggemar anime aksi-komedi.
Meskipun tidak sempurna—dengan karakter pendukung yang kurang mendalam dan akhir cerita yang terasa tergesa-gesa—serial ini tetap berhasil menghibur dari awal hingga akhir. Scarlet El Vandimion adalah salah satu protagonis paling berkesan dalam beberapa tahun terakhir, dan petualangannya meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Bagi mereka yang mencari tontonan ringan namun penuh aksi, May I Ask for One Final Thing? adalah jawaban yang tepat. Dan bagi mereka yang selama ini memendam rasa frustrasi terhadap ketidakadilan, menyaksikan Scarlet menghajar para bangsawan korup mungkin menjadi terapi yang sangat memuaskan.
