Review Anime That Time I Got Reincarnated as a Slime
![]() |
| That Time I Got Reincarnated as a Slime (Primevideo.com) |
TEGASIAN - Siapa sangka makhluk paling lemah dalam hierarki RPG—yaitu slime—justru menjadi bintang dalam salah satu anime isekai terbesar dekade ini? That Time I Got Reincarnated as a Slime, atau yang akrab disapa Tensura oleh para penggemarnya, telah membuktikan bahwa premis sederhana pun bisa melahirkan karya yang luar biasa. Berawal dari judul yang terdengar konyol, anime ini berhasil menjelma menjadi waralaba raksasa dengan tiga musim, lebih dari 70 episode, satu film, dan lebih dari 40 juta kopi yang beredar. Bukan sekadar anime isekai biasa, Tensura menawarkan pengalaman membangun peradaban yang hangat, penuh strategi, dan karakter yang mengesankan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam perjalanan Rimuru Tempest, dari slime tak berdaya menjadi pemimpin bangsa monster yang disegani.
Sinopsis: Dari Karyawan Kantoran Menjadi Lendir Biru
Kisah Tensura dimulai dengan Satoru Mikami, seorang pria kantoran berusia 37 tahun yang menjalani hidup yang sangat biasa dan membosankan. Nasibnya berubah tragis ketika ia ditikam saat melindungi seorang rekan kerja. Menjelang ajalnya, ia mendengar suara aneh di kepalanya yang merespons setiap keluhan dan keinginannya—memberinya ketahanan terhadap api dan tubuh yang tidak membutuhkan darah. Tanpa disadari, Satoru sedang "membangun" karakter barunya sendiri.
Ketika terbangun, ia mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dunia fantasi sebagai slime—makhluk kenyal berbentuk bola tanpa mata maupun telinga. Namun, berkat kemampuan unik Great Sage, ia tetap bisa merasakan dunia di sekitarnya melalui persepsi magis. Tidak butuh waktu lama baginya untuk bertemu Veldora, naga badai raksasa yang telah terkurung dalam segel selama 300 tahun. Alih-alih saling memangsa, mereka justru menjadi teman akrab. Veldora memberi nama "Rimuru" pada slime tersebut, dan Rimuru memberi nama belakang "Tempest" untuk mereka berdua sebagai simbol persaudaraan.
Dengan menggunakan skill Predator, Rimuru menelan Veldora beserta segelnya ke dalam tubuhnya untuk dianalisis. Momen ini menjadi titik balik paling krusial—Rimuru bukan lagi slime biasa. Ia membawa aura naga legendaris yang membuat monster-monster lain gemetar.
World-Building dan Pembangunan Bangsa yang Menyentuh Hati
Apa yang membedakan Tensura dari anime isekai lainnya adalah fokusnya pada pembangunan peradaban. Rimuru tidak mengincar kekuasaan atau balas dendam—ia ingin membangun tempat di mana monster dan manusia bisa hidup berdampingan secara damai. Ini adalah nation-building with heart, bukan sekadar power fantasy biasa.
Perjalanan dimulai dari menyelamatkan desa Goblin yang terancam punah, lalu secara bertahap berkembang menjadi Federasi Jura Tempest—sebuah negara multikultural yang makmur. Setiap kali Rimuru memberi nama pada monster, mereka berevolusi, mendapatkan kesadaran, dan menjadi pribadi yang lebih baik—momen yang digambarkan sangat mengharukan. Rimuru memimpin bukan melalui ketakutan, melainkan melalui karisma dan kebaikan tulus. Para bawahannya bukanlah budak, melainkan individu dengan kesadaran yang memilih mengikuti Rimuru karena ia benar-benar meningkatkan kehidupan mereka. Ini adalah tema yang jarang dieksplorasi secara mendalam dalam genre isekai.
Musim 1 dan 2: Fondasi dan Konflik yang Mendebarkan
Musim pertama (24 episode, Oktober 2018–Maret 2019) berfungsi sebagai fondasi—memperkenalkan Rimuru, para pengikutnya, dan awal mula pembangunan desa. Penonton diajak menyaksikan transformasi sebuah desa kecil menjadi pusat peradaban yang menjanjikan. Musik, animasi, dan desain karakter yang cerah berhasil menciptakan atmosfer yang menghibur dan mudah dinikmati.
Musim kedua (48 episode, Januari–September 2021) membawa cerita ke level yang lebih tinggi dengan mengangkat konflik politik dan peperangan. Rimuru harus menghadapi Kerajaan Falmuth dan para Demon Lord dalam peristiwa Walpurgis. Musim ini dipuji karena berhasil memadukan aksi, ketegangan diplomatik, dan momen emosional dengan sangat baik. Skor tinggi di MyAnimeList (8.35 per Juni 2025) menjadi bukti kesuksesan musim kedua.
Musim 3: Kontroversi "Arc Rapat" yang Memecah Belah Penggemar
Musim ketiga (26 episode, April–September 2024) menjadi titik paling kontroversial dalam sejarah anime ini. Banyak penggemar menyebutnya sebagai "That Time I Got Stuck in a Meeting" karena porsi adegan diplomasi dan pertemuan yang sangat dominan. Alih-alih pertarungan spektakuler, penonton disuguhi diskusi panjang mengenai aliansi, perjanjian dagang, dan negosiasi antarnegara.
Bagi sebagian penonton, musim ini terasa lambat dan membosankan—bahkan disebut sebagai "hampir menghancurkan keseluruhan seri". Kritik utama meliputi pacing yang terlalu lambat, minimnya aksi, dan terlalu banyak fokus pada politik. Beberapa pengulas memberikan skor rendah, seperti 5/10 atau bahkan 2/10.
Namun, ada pula penggemar yang justru mengapresiasi musim ini. Mereka berpendapat bahwa setelah Rimuru menjadi Demon Lord, dunia memang memasuki fase baru di mana ketegangan bergeser dari medan perang ke meja perundingan. Musim ini dinilai sebagai fase transisi yang penting untuk membangun stakes yang lebih besar di masa depan. Bagi yang menonton secara maraton, pengalaman menonton musim ini dinilai jauh lebih menyenangkan dibandingkan menonton mingguan.
Musim 4: Kembali ke Akar dan Penjahat Baru yang Menarik
Musim keempat menjadi angin segar bagi para penggemar yang kecewa dengan musim ketiga. Serial ini kembali ke akarnya—Rimuru kembali membangun bangsanya dan berhadapan dengan salah satu penjahat terbaik dalam genre ini. Penjahat tersebut adalah Maribel Rozzo, seorang tokoh reinkarnasi seperti Rimuru yang memiliki pengalaman luas dari kehidupan sebelumnya.
Memasuki episode 13–14, cerita semakin memanas dengan kedatangan Diablo yang kembali dengan pasukan iblis baru untuk bergabung dengan Tempest. Adegan-adegan pembangunan negara masih menjadi tulang punggung cerita, namun kali ini terasa lebih seimbang dengan elemen aksi dan pengembangan karakter. Momen ketika Rimuru mengunjungi makam Shizu untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ifrit menjadi salah satu adegan paling emosional dalam serial ini.
Namun, tidak semua penggemar puas. Beberapa mengkritik cour pertama musim keempat sebagai "visual yang mencolok namun hampa secara naratif"—potensi penjahat yang besar tetapi sia-sia, dengan ketegangan yang nyaris nol. Meski demikian, secara umum musim keempat dipandang sebagai perbaikan signifikan atas kekurangan musim ketiga.
Film Kedua: Tears of the Azure Sea
Waralaba Tensura terus berkembang dengan film kedua berjudul That Time I Got Reincarnated as a Slime the Movie: Tears of the Azure Sea yang dirilis di Jepang pada 27 Februari 2026. Film ini mengisahkan petualangan Rimuru dan petinggi Tempest lainnya yang diundang berlibur ke pulau resor di Sarion oleh Elmesia, penguasa bangsa elf.
Namun, liburan yang menyenangkan itu terganggu dengan kemunculan seorang gadis misterius bernama Yura dan ancaman kegelapan yang mengintai. Menariknya, film ini justru berfokus pada Gobta sebagai karakter utama, lengkap dengan pengembangan romance bersama Yura. Crunchyroll telah mengakuisisi hak distribusi global, dan Muse Asia akan mendistribusikannya di seluruh Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Spin-Off dan Manga: Dunia yang Terus Berkembang
Kesuksesan Tensura melahirkan berbagai spin-off manga. The Slime Diaries menampilkan keseharian Rimuru dan teman-temannya dalam gaya komedi slice-of-life. Trinity in Tempest dan Clayman's Revenge juga menjadi spin-off resmi yang dikembangkan oleh kreator asli, Fuse.
Sementara itu, light novel asli karya Fuse telah mencapai volume 23 dan dikonfirmasi sebagai volume terakhir. Setelah berjalan selama 11 tahun, seri ini akan segera berakhir—sebuah kabar pahit manis bagi para penggemar setia.
Analisis Kekuatan dan Kelemahan Tensura
Kekuatan Utama
World-building yang Matang. Tensura unggul dalam membangun dunia yang terasa hidup dan konsisten. Setiap negara, ras, dan karakter memiliki latar belakang dan motivasi yang jelas. Perkembangan Tempest dari desa kecil menjadi federasi besar terasa organik dan memuaskan.
Karakter yang Likable. Dengan pemeran yang sangat besar, Tensura berhasil membuat hampir setiap karakter terasa penting dan mudah disukai. Rimuru sebagai protagonis yang bijaksana, baik hati, namun tetap tegas menjadi anchor emosional yang kuat.
Tema yang Menyegarkan. Daripada balas dendam atau dominasi, Tensura mengusung tema persatuan, toleransi, dan pembangunan bersama—pesan yang menyegarkan di tengah lautan anime isekai yang seringkali gelap dan sinis.
Kelemahan yang Perlu Dicatat
Pacing yang Tidak Konsisten. Musim ketiga menjadi contoh nyata bagaimana adaptasi anime bisa terasa lambat dan bertele-tele. Meskipun materi sumbernya penting, eksekusi di layar terasa kurang dinamis.
Kurangnya Ketegangan. Karena Rimuru dan sekutunya sangat kuat, seringkali sulit merasakan ancaman nyata terhadap mereka. Konflik lebih sering diselesaikan melalui diplomasi daripada pertarungan, yang bisa terasa anti-klimaks bagi sebagian penonton.
Standarisasi Visual. Meskipun animasi dari Studio 8-Bit konsisten, beberapa pengulas menilai kualitas animasi hanya "lumayan" dan tidak sebanding dengan anime blockbuster seperti Jujutsu Kaisen atau Demon Slayer.
Kesimpulan: Apakah Tensura Layak Ditonton?
That Time I Got Reincarnated as a Slime adalah fenomena yang membuktikan bahwa anime isekai bisa lebih dari sekadar power fantasy kosong. Dengan world-building yang mendalam, karakter yang hangat, dan tema persatuan yang relevan, Tensura berhasil menciptakan ruang tersendiri di hati para penggemar. Meskipun musim ketiga mendapat banyak kritik karena pacing yang lambat dan dominasi diplomasi, musim keempat menunjukkan bahwa serial ini masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan.
Bagi penggemar isekai yang bosan dengan protagonis edgy dan cerita kelam, Tensura adalah pilihan tepat. Bagi yang menyukai strategi, politik, dan pembangunan peradaban, serial ini akan terasa seperti surga. Namun, jika Anda mencari aksi non-stop dan ketegangan tinggi setiap episode, mungkin Tensura akan terasa terlalu lambat di beberapa bagian.
Dengan total lebih dari 70 episode, satu film, dan musim keempat yang masih berjalan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai menonton—atau menonton ulang—petualangan Rimuru Tempest. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pengulas, "Tensura bukan sekadar anime isekai yang bagus—ini adalah salah satu yang terbaik di era modern". Slime biru yang satu ini telah membuktikan bahwa bahkan makhluk paling rendah pun bisa menjadi legenda.
