Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan

Good Morning Call
Good Morning Call (Amazon.co.jp)

TEGASIAN - Good Morning Call merupakan salah satu drama Jepang bergenre komedi romantis yang berhasil mencuri perhatian pecinta dorama di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tayang perdana pada tahun 2016 di Fuji TV dan Netflix, serial ini diadaptasi dari manga populer karya Yue Takasuka dengan judul yang sama. Dengan jumlah total 27 episode yang terbagi dalam dua musim, drama ini menawarkan kisah cinta remaja yang manis, penuh konflik kocak, dan tentu saja bikin baper.

Sinopsis Cerita

Serial ini berpusat pada tokoh utama bernama Yoshikawa Nao, seorang siswi SMA yang memilih untuk tinggal sendiri di Tokyo setelah orang tuanya memutuskan pindah ke pedesaan. Dengan penuh semangat, Nao menyewa sebuah apartemen murah untuk memulai kehidupan mandirinya. Namun, rencana indahnya buyar seketika ketika ia mengetahui bahwa apartemen tersebut ternyata juga disewa oleh orang lain—dan orang itu bukanlah siapa-siapa, melainkan Hisashi Uehara, teman sekelasnya yang paling populer dan tampan.

Ternyata, mereka berdua menjadi korban penipuan agen properti. Karena tidak memiliki cukup uang untuk mencari tempat tinggal baru dan tidak ada pilihan lain, Nao dan Uehara terpaksa membuat kesepakatan: berbagi apartemen yang sama secara diam-diam. Keputusan ini menjadi awal dari petualangan rumit sekaligus menggemaskan, di mana mereka harus menyembunyikan fakta tinggal serumah dari teman-teman sekolah, menghindari kecurigaan guru, dan pada saat yang sama berusaha mengatur perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.

Memasuki musim kedua yang berjudul Good Morning Call: Our Campus Days, cerita berlanjut ke masa perkuliahan. Nao dan Uehara kini tinggal di apartemen bersebelahan dan mulai berkuliah di universitas yang berbeda. Uehara dengan cepat menjadi idola kampus, sementara Nao harus bergulat dengan rasa insecure-nya dan berbagai ujian baru dalam hubungan jarak dekat mereka.

Pesona Karakter Utama

Salah satu daya tarik utama Good Morning Call terletak pada karakter-karakternya yang kuat dan dinamis. Yoshikawa Nao, yang diperankan oleh Fukuhara Haruka, digambarkan sebagai gadis yang bersemangat, impulsif, dan agak ceroboh—sosok yang sangat kontras dengan Uehara. Meskipun terkesan kikuk dan sering membuat kesalahan, Nao memiliki hati yang murni dan sifat keibuan yang membuatnya mudah disukai. Fukuhara berhasil membawakan peran ini dengan energi yang pas: reaksinya yang ekspresif terasa natural karena sesuai dengan usia remaja, dan ia mampu membuat karakter Nao tidak terasa menyebalkan meskipun sering bertindak impulsif.

Di sisi lain, ada Hisashi Uehara yang diperankan oleh Shiraishi Shunya. Uehara adalah kebalikan dari Nao: populer, pintar, keren, dan terlihat sempurna di mata semua orang. Namun, di balik penampilannya yang dingin dan jauh, ia menyimpan sisi lembut yang mulai terungkap seiring berjalannya waktu. Sayangnya, beberapa penonton menilai karakter Uehara terlalu “perfect” tanpa alasan yang kuat, dan aktingnya terasa kaku di beberapa momen sehingga sulit menciptakan koneksi emosional. Meski demikian, chemistry antara Fukuhara Haruka dan Shiraishi Shunya tetap menjadi salah satu nilai jual utama drama ini.

Selain dua pemeran utama, drama ini juga diperkaya oleh karakter pendukung yang tak kalah menarik, seperti Issei Sata (Kentaro Ito), Takuya Uehara (Kei Tanaka), dan Yuri Uehara (Erika Mori). Kehadiran mereka menambah warna dan konflik dalam cerita, meskipun beberapa alur—seperti kisah cinta Hisashi pada kakak iparnya—terasa agak canggung bagi sebagian penonton.

Kelebihan Drama

Good Morning Call menawarkan pengalaman menonton yang ringan dan menghibur. Komedi romantis ini berhasil memadukan situasi sehari-hari dengan momen-momen lucu, serta romansa yang dibangun secara perlahan—cara yang sangat disukai oleh para penggemar dorama. Ceritanya yang mudah diakses, penuh dengan pesona remaja, dan tanpa melodrama berlebihan membuatnya cocok sebagai tontonan pelepas penat.

Salah satu kekuatan utama drama ini adalah kemampuannya menggambarkan masa remaja dengan jujur. Setiap perasaan—baik itu rasa malu, keinginan, persahabatan, maupun ketakutan akan kesalahan—terasa besar dan nyata. Humor dalam serial ini juga bekerja dengan baik karena sentimen yang ditampilkan terasa proporsional namun tetap tulus.

Selain itu, Good Morning Call berhasil mengangkat tema kedewasaan dan kemandirian dengan cara yang relatable. Nao, yang untuk pertama kalinya hidup tanpa perlindungan orang tua, harus belajar mengatur uang, bertanggung jawab, dan menghadapi kesepian. Sementara Uehara, yang terbiasa menjadi pusat perhatian, belajar untuk menjadi dirinya sendiri di luar status popularitasnya saat tinggal bersama Nao—seseorang yang tidak memperlakukannya sebagai selebriti sekolah.

Perkembangan karakter juga menjadi nilai tambah, terutama pada Nao yang terlihat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri di musim kedua. Banyak penonton yang mengapresiasi penggambaran pertumbuhan ini, karena menunjukkan bahwa terkadang berpisah sementara untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah hal yang diperlukan, bahkan dalam sebuah hubungan.

Kekurangan yang Perlu Diperhatikan

Meskipun menyenangkan, Good Morning Call bukannya tanpa kekurangan. Banyak kritikus dan penonton yang menyoroti ketergantungan cerita pada klise-klise romansa sekolah tanpa pengembangan karakter atau motivasi yang mendalam. Alur cerita dianggap terlalu mengandalkan formula “cewek polos bertemu cowok keren” yang sudah sangat umum dalam drama Jepang.

Romansa antara Nao dan Uehara juga dinilai terjadi terlalu cepat dan tanpa pembangunan emosional yang cukup. Nao mulai menyukai Uehara hampir tanpa alasan yang jelas, dan banyak situasi terasa dipaksakan hanya untuk mengisi durasi tanpa memberikan dampak nyata pada perkembangan hubungan mereka.

Beberapa penonton juga menyoroti ketidakseimbangan dalam hubungan kedua tokoh utama. Uehara jarang mengekspresikan perasaannya, dan ada kalanya sikapnya terasa tidak adil terhadap Nao. Bahkan, ada yang menilai hubungan mereka sebagai “misoginis” karena ketidakmampuan Uehara untuk berkomunikasi dengan baik.

Dari sisi akting, meskipun secara umum dianggap baik, ada beberapa momen di mana penampilan para pemain terasa kaku dan “robotik,” sehingga gagal menciptakan ikatan emosional dengan penonton. Drama ini juga dianggap terlalu panjang dengan 17 episode di musim pertama, sehingga beberapa episode terasa seperti pengisi (filler) yang tidak terlalu penting.

Musim Kedua: Campus Days

Musim kedua dari Good Morning Call mendapatkan tanggapan yang beragam. Beberapa penonton justru lebih menikmati musim kedua dibandingkan pertama, dengan memberikan rating yang lebih tinggi. Mereka mengapresiasi peningkatan dalam hal kostum, sinematografi, dan penataan gaya yang terasa lebih segar.

Namun, tidak sedikit pula yang menganggap musim kedua justru lebih buruk. Kritik utama mengarah pada alur cerita yang terasa tidak penting dan penulisan yang buruk. Beberapa penonton merasa Nao tidak mengalami perkembangan karakter sama sekali, sementara Uehara hanya mampu tersenyum sekali sepanjang musim. Interaksi fisik antara kedua pemeran utama juga dinilai canggung di setiap episode.

Meskipun demikian, musim kedua berhasil mengangkat tema-tema dewasa seperti komplikasi dalam hubungan jarak dekat, komunikasi, dan pencarian jati diri di tengah komitmen. Kehadiran karakter baru seperti Natsume—yang setia mencintai Nao dari kejauhan—berhasil menambah lapisan emosional pada cerita.

Akting dan Produksi

Salah satu aspek yang paling dipuji dari Good Morning Call adalah akting para pemainnya. Fukuhara Haruka dan Shiraishi Shunya berhasil menghidupkan karakter-karakter mereka dengan meyakinkan. Para pemeran pendukung juga tampil solid, menambah kedalaman pada setiap adegan.

Dari sisi produksi, musim kedua menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal sinematografi dan penataan kamera, meskipun masih tertinggal dibandingkan produksi Korea Selatan. Namun, upaya untuk bereksperimen dengan sudut pengambilan gambar patut diapresiasi.

Pesan Moral dan Relevansi

Di balik kisah cinta remaja yang manis, Good Morning Call menyampaikan pesan-pesan moral yang berharga. Serial ini mengajarkan tentang pentingnya kepercayaan dalam hubungan, komunikasi yang baik, dan kejujuran dengan orang-orang di sekitar. Perjalanan Nao dan Uehara menunjukkan bahwa cinta sejati membutuhkan usaha, pengorbanan, dan kesediaan untuk saling memahami.

Drama ini juga relevan bagi siapa pun yang pernah merasakan masa-masa transisi dari remaja menuju dewasa—saat di mana segala sesuatu terasa besar dan menentukan, tetapi juga penuh dengan pelajaran berharga tentang kehidupan dan cinta.

Kesimpulan

Good Morning Call adalah drama yang sempurna bagi mereka yang mencari tontonan ringan, manis, dan menghibur. Meskipun tidak menawarkan cerita yang revolusioner atau terobosan baru dalam genre komedi romantis, serial ini berhasil menjalankan formula klasik dengan cukup baik. Dengan total 27 episode yang dapat ditonton di Netflix, drama ini cocok untuk menemani waktu santai atau menjadi pintu masuk bagi penonton pemula yang ingin mengenal dunia dorama Jepang.

Bagi penggemar drama dengan tema “tak sengaja tinggal serumah” ala Full House hingga drama Indonesia modern, Good Morning Call adalah pilihan yang tepat. Meskipun memiliki kekurangan dalam hal pengembangan karakter dan ketergantungan pada klise, pesona dan kehangatan yang ditawarkannya sulit untuk diabaikan. Pada akhirnya, Good Morning Call adalah kisah tentang dua remaja yang belajar bahwa terkadang, hal-hal terbaik dalam hidup datang dari situasi yang paling tidak terduga—bahkan dari sebuah kesalahan administrasi apartemen sekalipun.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan
  • Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan
  • Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan
  • Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan
  • Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan
  • Review Good Morning Call: Romansa Remaja Jepang yang Menggemaskan