Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial

Squid Game
Squid Game (theasianparent.com)

TEGASIAN - Serial Squid Game dari Korea Selatan telah menjadi fenomena global yang tak terbantahkan sejak musim pertamanya tayang pada September 2021. Dengan lebih dari 1,65 miliar jam tayang dalam 28 hari dan menjangkau 111 juta akun, drama ini menjadi serial non-Inggris paling sukses sepanjang sejarah Netflix. Setelah penantian panjang selama tiga tahun, musim kedua akhirnya tayang pada 26 Desember 2024, disusul musim ketiga dan terakhir yang dirilis pada 27 Juni 2026. Lantas, apakah kelanjutan kisah Seong Gi-hun ini mampu mempertahankan kualitas dan kejutan yang membuat musim pertama begitu istimewa? Artikel ini akan mengulas secara mendalam perjalanan Squid Game dari musim kedua hingga akhir cerita.

Jalan Panjang Seong Gi-hun di Musim Kedua

Musim kedua Squid Game langsung melanjutkan cerita dari akhir musim pertama. Seong Gi-hun (Lee Jung-jae), sang pemenang permainan mematikan, kembali dengan misi tunggal: membongkar dan menghancurkan sistem permainan dari dalam. Dua tahun telah berlalu sejak kemenangannya, dan Gi-hun menghabiskan seluruh energinya untuk memburu Recruiter (Gong Yoo), sosok misterius yang memulai segalanya. Di sisi lain, Detektif Hwang Jun-ho (Wi Ha-jun) yang selamat dari tembakan di musim pertama kini menjadi petugas lalu lintas, tetapi tetap gigih mencari petunjuk tentang organisasi di balik permainan.

Musim kedua menyajikan tujuh episode yang penuh dengan permainan anak-anak baru yang tak kalah mematikan. Gi-hun yang kini mengetahui seluk-beluk permainan berusaha melindungi para peserta dan menggagalkan jalannya kompetisi. Namun, ia tidak menyadari bahwa bahaya terbesar justru berasal dari dalam kelompoknya sendiri. Hwang In-ho, atau yang dikenal sebagai Front Man (Lee Byung-hun), menyusup ke dalam permainan sebagai Player 001 dan berpura-pura menjadi sekutu Gi-hun. Kehadiran pengkhianat di tengah-tengah para pemain ini menjadi salah satu elemen kunci yang membangun ketegangan sepanjang musim.

Puncak musim kedua terjadi ketika Gi-hun memimpin pemberontakan bersenjata melawan para penjaga pink. Namun, aksi heroik ini berakhir dengan kegagalan tragis. Di episode terakhir, Front Man yang selama ini menyamar sebagai Player 001 akhirnya membuka topengnya dan mengeksekusi Jung-bae, sahabat terdekat Gi-hun, tepat di depan matanya. Musim kedua ditutup dengan cliffhanger yang menyayat hati—Gi-hun berteriak histeris melihat sahabatnya tewas, sementara cahaya nama Jung-bae di papan elektronik peserta padam satu per satu.

Pemeran Baru yang Mewarnai Permainan

Musim kedua Squid Game menghadirkan deretan pemain baru yang memperkaya dinamika cerita. Selain Lee Jung-jae, Lee Byung-hun, Wi Ha-jun, dan Gong Yoo yang kembali memerankan karakter mereka, sejumlah nama baru turut bergabung. Yim Si-wan berperan sebagai Lee Myung-gi (Player 333), mantan kekasih dari Kim Jun-hee (Jo Yu-ri) yang juga terjebak dalam permainan. Kang Ha-neul tampil sebagai Dae-ho, sementara Park Sung-hoon memerankan Hyun-ju, seorang karakter trans yang berani mengambil komando di pertarungan terakhir.

Salah satu karakter baru yang paling mencuri perhatian adalah Thanos yang diperankan oleh Choi Seung-hyun atau T.O.P, mantan anggota grup K-pop Big Bang. Kehadirannya membawa humor di tengah suasana mencekam, meskipun beberapa kritikus menilai narasi cerita menjadi terganggu setelah karakternya menghilang. Park Gyu-young sebagai No-eul juga berhasil mencuri perhatian penonton sejak awal, menjadi salah satu keputusan paling cemerlang sang sutradara di sepanjang musim ini.

Namun, tidak semua karakter baru mendapatkan porsi cerita yang memadai. Beberapa kritikus menilai bahwa meskipun backstory masing-masing karakter menarik, waktu yang diberikan untuk menjelaskan ambisi dan motivasi mereka kurang maksimal. Karakter seperti Myung Gi dan Dae-ho terasa seperti pajangan belaka, tanpa pengembangan emosional yang cukup untuk membuat penonton benar-benar peduli pada nasib mereka.

Respon Kritis dan Penurunan Kualitas

Salah satu topik paling hangat yang mengiringi perilisan musim kedua dan ketiga Squid Game adalah penurunan signifikan dalam penilaian dari kritikus dan penonton. Data dari Rotten Tomatoes menunjukkan bahwa audience score merosot drastis dari 85 persen pada musim pertama, menjadi 64 persen di musim kedua, dan akhirnya 51 persen di musim ketiga. Tomatometer atau indeks kesegaran dari para kritikus juga turun dari 95 persen menjadi 78 persen. Di IMDb, rata-rata rating musim pertama yang mencapai 8,13 juga turun menjadi 7,51 untuk musim-musim berikutnya.

Banyak kritikus menyoroti kelemahan utama dari musim kedua. The Hollywood Reporter menyebut musim kedua sebagai "kekecewaan total" yang mengulang sebagian besar tema dan alur cerita yang sama dengan musim pertama, namun dengan tempo yang lebih lambat dan wawasan yang lebih sedikit. Musim kedua juga dinilai hanya menyajikan setengah cerita, menanamkan bom-bom naratif yang baru akan meledak di musim berikutnya, lalu memotong tepat di saat ketegangan mencapai puncaknya.

Ulasan dari berbagai sumber mengungkapkan sentimen serupa. Seorang pengguna Metacritic menggambarkan musim kedua sebagai "lumayan" tetapi tidak sebanding dengan musim pertama yang dianggap "sangat bagus". Penulis lain menyebut musim kedua terasa "lambat dan kadang bertele-tele," dengan permainan yang masih intens tetapi tanpa elemen kejutan yang sama. Letterboxd memberikan rating 3,5 dari 5 untuk musim kedua, dengan komentar bahwa "sausnya hilang" dan terasa "hambar serta membosankan".

Di Indonesia, ulasan dari detikcom mengungkapkan bahwa meskipun Squid Game musim kedua cukup seru dengan semua elemen yang diinginkan dari drama Korea, pertumpahan darah yang ditampilkan gagal menyamakan efek roller coaster emosi dan keseruan permainan demi permainan di musim pertama. Kelemahan terbesar terletak pada ketidakmampuan musim ini mempertahankan ketegangan, terutama karena penonton sejak awal sudah mengetahui bahwa akan ada pengkhianat di antara para peserta dan Gi-hun pasti akan gagal dalam misinya.

Kontroversi Akhir Cerita di Musim Ketiga

Musim ketiga yang dirilis pada 27 Juni 2026 menjadi penutup dari saga Squid Game. Netflix mengonfirmasi bahwa ini adalah "The Final Season," menjanjikan konklusi berdarah dari pertarungan ideologi antara kemanusiaan dan keserakahan. Musim ini langsung melanjutkan kejadian dari musim kedua, di mana Gi-hun yang kini telah mengetahui rahasia gelap organisasi permainan tidak lagi bermain untuk hadiah uang, melainkan untuk menghancurkan sistem tersebut dari dalam.

Konflik utama musim ketiga adalah pertarungan langsung antara Seong Gi-hun dan Front Man (Hwang In-ho). Jika di musim sebelumnya Gi-hun masih meraba-raba strategi, kali ini ia datang dengan persiapan matang. Namun, Front Man bukanlah lawan yang mudah—ia memiliki kendali penuh atas permainan dan pasukan bertopeng merah muda. Dinamika kucing-tikus di antara keduanya menjadi sajian utama, di mana Gi-hun mencoba meyakinkan peserta lain untuk memberontak, sementara Front Man memanipulasi keputusasaan mereka demi kelancaran permainan.

Namun, akhir cerita Squid Game menuai kontroversi besar. Dalam musim ketiga, Gi-hun dikisahkan meninggal dunia. Tokoh utama yang memasuki permainan sebagai pecandu judi yang cacat dan ayah yang terasing, akhirnya mati melindungi bayi dari peserta lain. Kematian Gi-hun tidak terasa seperti penebusan dosa, melainkan lebih seperti pernyataan bahwa bahkan dalam sistem yang dirancang untuk menghilangkan kemanusiaan, pilihan untuk tetap menjadi manusia tetap ada.

Yang lebih mengejutkan, akhir cerita justru membuka kemungkinan baru yang lebih besar. Front Man terlihat bepergian ke Los Angeles, di mana di sebuah gang ia melihat seorang wanita pirang berbusana rapi bermain ddakji dengan seorang pria putus asa—sosok rekruter baru yang diperankan oleh Cate Blanchett. Ini mengindikasikan bahwa permainan mungkin akan meluas secara global. Sementara itu, putri Gi-hun menerima kemenangannya langsung dari Front Man, membuka kemungkinan kelanjutan cerita dengan putrinya sebagai protagonis di masa depan.

The Hollywood Reporter menggambarkan musim ketiga sebagai "akhir yang tidak memuaskan" dari sebuah serial yang dulu mendebarkan. Kritikus menilai bahwa episode-episode di musim ketiga seharusnya dianggap sebagai "season 2.0" daripada instalasi baru yang utuh. Meskipun demikian, Squid Game musim ketiga tetap berhasil meraih penghargaan Best Foreign Language Series di Critics Choice Awards untuk ketiga kalinya berturut-turut, membuktikan bahwa waralaba ini tetap menjadi fenomena global meskipun mendapat ulasan negatif.

Antara Fenomena Global dan Narasi yang Tergerus

Squid Game telah membuktikan diri sebagai IP raksasa yang mampu menembus batas-batas budaya dan ekonomi. Dari KFC yang menghadirkan menu dengan roti merah muda hingga Crocs dan Johnnie Walker yang membuat produk edisi terbatas, serial ini menciptakan nilai tambah yang luar biasa di sektor riil. YouTube creators seperti MrBeast membuat video reproduksi permainan secara langsung, sementara Saturday Night Live membuat parodi yang tersebar luas. Serial ini bahkan berhasil menembus penghargaan Emmy yang konservatif untuk pertama kalinya memberikan penghargaan pada karya non-Inggris.

Namun di balik kesuksesan komersial yang gemilang, terdapat pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga kualitas naratif. Seperti yang diungkapkan oleh seorang narasumber dari Korea Cultural Information Service, "Harus ada kewaspadaan terhadap沉醉 pada indikator kesuksesan eksternal belaka. Jika struktur naratif yang halus dan kedalaman filosofis tidak dapat dipertahankan sepanjang musim, IP sebesar apa pun akan sulit menghindari nasib ditinggalkan penonton".

Penurunan rating yang konsisten dari musim ke musim menjadi cermin bahwa kesuksesan awal tidak menjamin keberlanjutan. Cerita yang longgar dan plot yang kurang masuk akal menjadi penyebab utama. Episode terakhir musim ketiga yang berjudul "Manusia adalah..." hanya meraih skor 6,7, menjadi titik terendah dalam keseluruhan serial.

Secara keseluruhan, Squid Game adalah fenomena yang akan dikenang sebagai salah satu serial paling berpengaruh dalam sejarah televisi. Musim pertama akan selalu diingat sebagai mahakarya dengan karakter yang hidup, drama yang menegangkan, dan visual yang tak terlupakan. Namun, musim-musim berikutnya menunjukkan bahwa bahkan fenomena global sekalipun tidak kebal terhadap kelelahan naratif dan ekspektasi yang terlalu tinggi. Bagi para penggemar, perjalanan Gi-hun dari seorang pecundang menjadi pahlawan yang rela berkorban tetap menjadi kisah yang menyentuh, meskipun jalan menuju akhir cerita terasa berliku dan penuh kontroversi.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial
  • Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial
  • Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial
  • Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial
  • Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial
  • Review Drama Squid Game: Musim Kedua dan Ketiga yang Kontroversial