Review The East Palace: Drama Korea Fantasi Gelap yang Wajib Ditonton
![]() |
| The East Palace (wikitree.co.kr) |
TEGASIAN - Dunia drama Korea kembali dihebohkan dengan kehadiran The East Palace, serial original Netflix yang tayang perdana pada 17 Juli 2026. Dibintangi oleh nama-nama besar seperti Nam Joo-hyuk, Roh Yoon-seo, dan Cho Seung-woo, drama bergenre fantasi gelap ini langsung menyedot perhatian penonton global. Hanya dalam tiga hari setelah penayangan perdananya, The East Palace berhasil menembus peringkat kedua daftar serial televisi non-bahasa Inggris Netflix global dengan 4,9 juta penayangan. Kesuksesan ini tidak hanya terbatas di tingkat global, karena drama tersebut juga menduduki peringkat pertama di daftar Top 10 Netflix Korea dan masuk dalam 10 besar Netflix di 27 negara, termasuk Indonesia, Hong Kong, Thailand, Filipina, dan India. Lantas, apa yang membuat The East Palace begitu istimewa dan layak untuk masuk dalam daftar tontonan Anda? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Sinopsis dan Alur Cerita The East Palace
The East Palace mengangkat kisah fiksi berlatar era Kerajaan Joseon yang diselimuti aura mencekam. Cerita berpusat di Istana Timur (East Palace), tempat yang selama 30 tahun terakhir dirundung kutukan misterius yang menyebabkan kematian beruntun para putra mahkota. Masyarakat meyakini bahwa tragedi tersebut adalah ulah roh pendendam yang bersemayam di kolam istana. Situasi semakin kritis ketika Pangeran Yeongan, putra terakhir raja, mulai terancam oleh kekuatan gaib yang sama.
Demi menyelamatkan garis keturunan kerajaan, Sang Raja yang diperankan oleh Cho Seung-woo secara diam-diam memanggil Gu-cheon (Nam Joo-hyuk), seorang pemburu arwah dengan kemampuan istimewa untuk melintasi dunia manusia dan dunia roh. Gu-cheon adalah sosok pendiam dengan masa lalu kelam yang berkaitan erat dengan dunia supranatural. Ia awalnya menolak panggilan raja, namun akhirnya terpaksa menerima misi berbahaya ini. Selain Gu-cheon, raja juga mendatangkan Saeng-gang (Roh Yoon-seo), seorang dayang istana yang memiliki kemampuan langka untuk mendengar bisikan para arwah. Saeng-gang ditugaskan untuk mengawasi pergerakan Gu-cheon sekaligus memastikan keselamatan pangeran.
Meski awalnya sering berselisih paham, Gu-cheon dan Saeng-gang terpaksa bekerja sama seiring memburuknya kondisi di istana. Penyelidikan mereka mengungkap bahwa kutukan tersebut bukanlah kejadian acak, melainkan dampak dari dosa masa lalu dan perebutan kekuasaan yang berdarah. Semakin dalam mereka menyelidiki, semakin jelas bahwa ancaman terbesar bukan hanya berasal dari makhluk gaib, melainkan rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan oleh keluarga kerajaan.
Pemeran Utama dan Karakter yang Memukau
Salah satu daya tarik utama The East Palace terletak pada deretan pemeran berbakat yang menghidupkan setiap karakter dengan luar biasa. Nam Joo-hyuk, yang kembali berakting setelah menyelesaikan wajib militernya, berhasil memukau penonton dengan perannya sebagai Gu-cheon. Karakter Gu-cheon digambarkan sebagai pria yang mampu berjalan di dunia roh, namun juga menyimpan beban emosional yang berat. Nam Joo-hyuk membawa ketenangan dan kedalaman pada karakternya, menjadikan Gu-cheon sebagai tokoh yang karismatik, kadang lucu, namun juga rentan. Ini adalah penampilan yang terukur dan layak mendapatkan skenario yang lebih kuat.
Di sisi lain, Roh Yoon-seo tampil memukau sebagai Saeng-gang, seorang dayang istana dengan kemampuan mendengar suara orang mati. Roh memberikan kehangatan emosional pada karakternya, membuat Saeng-gang menjadi sosok yang mudah disukai dan engaging. Kimia antara Nam Joo-hyuk dan Roh Yoon-seo berkembang secara alami sepanjang episode, tanpa pernah mengambil alih plot utama, namun cukup untuk membuat penonton ingin melihat lebih banyak adegan bersama mereka.
Cho Seung-woo, aktor senior yang dikenal melalui drama Stranger, tampil gemilang sebagai raja yang penuh intrik. Kehadirannya memberikan bobot dan gravitasi pada istana kerajaan, mengingatkan penonton betapa mudahnya ia menguasai setiap adegan. Tak ketinggalan, Kwak Dong-yeon berhasil mencuri perhatian melalui perannya sebagai putra mahkota yang berubah menjadi roh jahat (ak-gwi), memberikan nuansa villain yang kuat dan mengesankan.
Visual dan Sinematografi yang Memukau
The East Palace adalah drama yang kaya secara visual, sarat dengan cerita rakyat Korea dan dibangun dengan ambisi sinematik yang langsung membedakannya dari drama sageuk pada umumnya. Sutradara Choi Jung-kyu berhasil mengubah istana menjadi entitas yang hidup, di mana setiap koridor terasa berat dengan sejarah dan setiap lentera yang berkedip mengisyaratkan pengunjung tak kasat mata lainnya. Desain produksi, kostum, dan efek visual tidak pernah mengalahkan cerita rakyat yang diangkat; mereka justru saling melengkapi.
Media internasional pun memberikan pujian tinggi terhadap kualitas visual drama ini. Decider menyebut bahwa serial ini memiliki sinematografi yang memukau serta pembangunan dunia yang mampu memikat penonton sejak episode pertama. Collider bahkan menyebut The East Palace sebagai drama fantasi epik paling memikat yang dirilis Netflix sepanjang 2026. Majalah TIME menilai kekuatan utama serial ini terletak pada pembangunan dunia yang disusun secara matang dan mendukung keseluruhan cerita. Penonton pun memuji sinematografi yang keren dan alur cerita yang tidak membosankan.
Salah satu elemen visual yang paling menarik adalah penggambaran dunia roh atau yang disebut "Dunia Gwi". Banyak penonton yang membandingkan dunia Gwi dengan Upside Down dalam serial Stranger Things. Keduanya merupakan dimensi alternatif tempat tinggal makhluk supernatural, dengan warna cokelat kemerahan dan sulur-sulur di bangunan dan tanah. Bahkan visual villain utama, putra mahkota yang berubah menjadi ak-gwi, juga memiliki kemiripan dengan Vecna di Stranger Things, dengan sulur di wajah dan tubuh mereka.
Respon Penonton dan Kritikus
The East Palace berhasil menuai beragam respons dari penonton dan kritikus. Di Rotten Tomatoes, drama ini mempertahankan skor kritikus sempurna 100% dari sembilan ulasan, sementara skor penonton berada di angka 91-92% yang solid. ScreenRant memberikan ulasan positif, dengan pujian khusus pada cara serial ini menggabungkan berbagai genre dan menghadirkan berbagai jenis hantu, serta menyoroti bagaimana hubungan antara dua protagonis utama terbukti menjadi pengalaman yang secara bertahap memuaskan untuk disaksikan.
Di Indonesia, The East Palace sukses menempati posisi kedua di daftar 10 Serial TV Teratas Netflix Indonesia dan menuai pujian karena alur ceritanya yang segar serta visualnya yang menarik. Penonton Indonesia memuji ketegangan horor yang berbeda dari biasanya. Seperti yang diungkapkan oleh Rere, salah satu penikmat drama: "Dramanya horor tapi horornya bukan yang ngagetin jumpscare. Aku suka karena dia horor walau hantu tapi tetap thriller". Penonton lain, Azzahra, merasa serial ini sangat seru karena menyuguhkan jalan cerita yang penuh kejutan dan sulit ditebak: "Plot twist terus, isinya bahkan kita nggak bisa langsung menentukan siapa yang jahat".
Namun, tidak semua ulasan sepenuhnya positif. Beberapa kritikus menilai bahwa meskipun The East Palace memukau dengan visual yang dipoles dan horor periode, kurangnya orisinalitas dan pembuatan mitologi yang berbelit-belit menghambat drama ini. India Today menyoroti bahwa meskipun Nam Joo-hyuk mengesankan dalam penampilan comeback-nya, serial ini gagal memberikan emotional payoff dan tidak pernah benar-benar memberi tahu penonton siapa yang seharusnya mereka dukung. SCMP memberikan rating 2,5 dari 5 bintang, dengan catatan bahwa meskipun The East Palace memukau dengan visual yang dipoles dan horor periode, kurangnya orisinalitas dan pembuatan mitologi yang berbelit-belit menghambatnya.
Keunggulan dan Kelemahan The East Palace
Keunggulan: The East Palace unggul dalam menciptakan atmosfer yang mencekam. Drama ini lebih mengandalkan suasana yang menakutkan seperti ritual perdukunan dan visual dunia roh yang gelap, daripada mengandalkan jumpscare murahan. Perpaduan antara horor, misteri, drama sejarah, dan intrik politik disajikan dalam alur yang membuat penonton terus penasaran sejak episode pertama. Delapan episode yang dirilis sekaligus memungkinkan penonton untuk menikmati cerita secara maraton tanpa harus menunggu pekan berikutnya.
Dari sisi produksi, kualitas CGI terbilang sangat baik, dengan efek visual yang impresif dan natural. Koreografi pertarungan melawan roh dibuat cepat, brutal, dan mengingatkan pada anime aksi. Chemistry antara para pemain utama juga menjadi nilai tambah yang signifikan.
Kelemahan: Di sisi lain, beberapa kritikus menilai bahwa The East Palace terlalu sibuk memperluas mitologinya sehingga lupa untuk memperdalam karakternya. Setiap beberapa episode memperkenalkan hantu baru, kutukan baru, atau wahyu baru tentang masa lalu istana. Meskipun secara individual twist ini menarik, secara bersama-sama mereka mulai terasa seperti potongan-potongan teka-teki rumit yang tidak pernah benar-benar membentuk gambaran emosional yang utuh. Misteri terus bertumbuh bahkan ketika taruhan emosional tidak. Hal ini pada akhirnya menjaga jarak antara penonton dengan cerita.
Selain itu, alur cerita yang padat dengan hantu, kutukan, rahasia keluarga, konspirasi, dan transisi antara berbagai dunia terkadang terasa terlalu padat dan membingungkan. Pada beberapa kesempatan, penonton mungkin bertanya-tanya siapa sebenarnya antagonis utama, karena setiap roh baru tampak disajikan sebagai ancaman utama, hanya untuk digantikan oleh roh lain beberapa adegan kemudian.
Kesimpulan: Apakah The East Palace Layak Ditonton?
Secara keseluruhan, The East Palace adalah drama yang menawarkan pengalaman menonton yang menghibur dengan kualitas produksi tinggi, efek visual impresif, serta atmosfer horor kerajaan yang kuat. Drama ini berhasil memadukan genre sageuk dengan sentuhan mistis hingga fantasi gelap dalam delapan episode yang cukup seru untuk diikuti.
Meskipun memiliki beberapa kelemahan dalam hal pendalaman karakter dan alur cerita yang terkadang terasa berbelit-belit, The East Palace tetap menjadi tontonan yang layak, terutama bagi Anda yang menyukai drama Korea bertema kerajaan dengan unsur mistis dan fantasi. Rating pribadi dari berbagai penonton berkisar antara 8 hingga 10 dari 10, menunjukkan bahwa secara keseluruhan drama ini berhasil memberikan kesan positif.
Bagi penggemar Nam Joo-hyuk, drama ini menjadi momen comeback yang dinantikan dan tidak mengecewakan. Bagi pecinta genre horor-misteri dengan sentuhan sejarah, The East Palace adalah pilihan yang tepat. Drama ini tersedia di Netflix dengan subtitle bahasa Indonesia, sehingga memudahkan penonton di Tanah Air untuk menikmatinya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, The East Palace berhasil meninggalkan kesan kuat di tengah persaingan drama Korea 2026 dan layak masuk dalam daftar tontonan Anda.
